Beranda > Umum > PELAJARAN KE-8: SABAR DAN LEMAH LEMBUT KEPADA ANAK-ANAK

PELAJARAN KE-8: SABAR DAN LEMAH LEMBUT KEPADA ANAK-ANAK

“Pengurus Islamic Center tidak menggubris Ahmad dan tetap berbicara dengan tamunya. Ia tidak marah dan memaklumi bahwa yang mengganggunya adalah anak-anak.”

Saya belajar tentang kesabaran pengurus kantor Islamic Center yang tidak marah kepada anak kecil. Ia cukup mendiamkannya dan terus berbicara kepada tamunya. Hendaklah kita meneladani Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dalam segala hal termasuk kesabaran dan sifat santun beliau. Sebagaimana terdapat dalam Shahih Bukhari ketika Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam sedang berbicara di hadapan suatu kaum lalu datanglah orang Arab Badui dan bertanya, “Kapan terjadinya kiamat?” Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tetap meneruskan pembicaraannya. Sebagian orang mengatakan bahwa beliau mendengar pertanyaan orang tersebut tapi tidak suka dengan ucapannya. Sebagian lagi mengatakan, beliau tidak mendengar orang tersebut bertanya. Sampai beliau selesai dengan pembicaraannya, setelah itu bertanya, “Mana orang yang bertanya tentang hari kiamat?” Orang itu menjawab, “Saya, wahai Rasulullah.” … dan seterusnya.

Diantara bentuk kasih sayang dan kelembutan terhadap anak-anak adalah dengan mengusap kepalanya. Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma—umur Ibnu Abbas ketika Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam wafat baru 13 tahun—berkata bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah mengusap kepalanya sembari mendoakannya.

Anak kecil, terkadang, senang bersenda gurau dan berbuat usil. Jika kita membentaknya, maka hal itu akan melukai perasaan dan mengganggu kejiwaannya. Sehingga dia lebih senang untuk menyendiri dan menghindar untuk bergaul dengan orang yang lebih dewasa. Hadapilah perbuatan iseng mereka dengan senyum dan kekaguman. Arahkan agar mereka tidak berbuat kurang ajar dengan cara yang lembut sehingga mereka akan senang kepada kita dan termotivasi untuk bergaul dengan orang yang lebih tua.

Bila kita berjumpa dengan anak-anak sedang bermain di jalan, apa yang akan kita lakukan? Di antara kita ada yang menegur mereka, “Main saja! Ayo pulang!”, atau teguran lain yang menunjukkan ketidaksukaan kita kepada mereka. Ada pula yang nenggunakan cara tidak berkomentar apa-apa.

Marilah kita perhatikan cerita Anas bin Malik Radhiyallahu Anhu yang sejak usia sepuluh tahun dibawa ibunya kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam untuk menjadi pembantu beliau. Anas Radhiyallahu Anhu membantu Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam selama sepuluh tahun lamanya. Ia Radhiyallahu Anhu berkata, “Suatu hari saya membantu Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam sampai saya berpendapat telah menyelesaikan pekerjaanku dan biasanya Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasalam melakukan qailulah ‘istirahat sebentar di siang hari’ maka saya keluar menemui anak-anak lainnya yang sedang bermain dan saya menonton permainan mereka. Lalu datanglah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam sambil mengucapkan salam kepada anak-anak yang sedang bermain, kemudian beliau memanggilku dan menyuruhku untuk suatu keperluan beliau. Saya pergi menjalankan tugas beliau sedangkan beliau duduk di tempat yang teduh sampai saya datang.” (HR. Ahmad)

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak marah kepada Anas yang sedang menonton anak-anak bermain dan keluar rumah tanpa pamit karena Anas menyangka beliau sedang istirahat. Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam juga menghargai anak-anak kecil dengan mengucapkan salam kepada mereka.

Orangtua dan pendidik haruslah bersikap sabar dan lemah lembut kepada anak atau siswanya, terutama saat memberi nasihat. Imam Ibnul Qayyim Rahimahullah berkata, “Perbedaan antara nasihat dan kecaman adalah bahwa nasihat itu merupakan perbuatan baik kepada orang-orang yang engkau nasihati dalam bentuk kasih sayang, rasa kasihan, cinta dan cemburu. Nasihat itu semata-mata perbuatan baik yang didasari kasih sayang dan kelembutan dan dimaksudkan hanya untuk mencari rida Allah dan wajah-Nya kemudian sebagai kebaikan untuk makhluk-Nya. Dia bersikap lemah-lembut semaksimal mungkin dalam menjalankan nasihat tersebut dan sabar dalam menerima gangguan dan celaan dari orang-orang yang dinasihatinya dan menyikapinya seperti sikap seorang dokter yang ahli. Penuh kasih sayang kepada pasiennya yang menderita sakit komplikasi dan dalam keadaan setengah sadar. Dia sabar menghadapi kekurangajaran pasiennya dan tindak-tanduknya yang tidak tahu aturan. Dokter juga tetap bersikap lemah lembut dan merayunya dengan berbagai cara agar si pasien mau meminum obat. Begitulah sikap seorang pemberi nasihat”. (Ar Ruuh hal. 381)

Ada seorang anak kecil berumur enam tahun ingin menggembirakan adiknya yang berumur dua tahun dengan memboncengnya naik sepeda. Si kakak duduk di depan dan si adik duduk di belakang, padahal ia belum bisa menjaga keseimbangan diri. Sang ayah yang melihat kejadian tersebut, tanpa pikir panjang berlari dan mengambil anaknya yang duduk di belakang. Kemudian langsung memukul anaknya yang berumur enam tahun—yang saat itu belum mengerti bahwa tindakan tersebut dapat membahayakan adiknya—. Anak yang dipukul menangis dan si ayah pun menyesal, mengapa dia harus memukul padahal cukup dijelaskan bahwa tindakan tersebut membahayakan adiknya. Termasuk ciri orang yang bertakwa adalah orang yang dapat menahan marah.

Dalam praktiknya, bersikap lembut dan menahan emosi terhadap perilaku anak kecil, tidaklah mudah. Namun demikian, kita harus berusaha mengendalikan emosi dalam menghadapi anak karena:

  1. Takut kepada Allah mengingat anak adalah amanat.
  2. Mengharap rida Allah dan ganjaran-Nya.
  3. Agar kita mendapatkan predikat sebagai orang yang baik sesuai dengan kriteria yang disebutkan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, “Sebaik-baik kalian adalah yang terbaik terhadap keluarganya…”
  4. Agar anak kita tumbuh menjadi anak yang saleh dan berbakti kepada orangtua.

Hendaklah kita mengambil pelajaran dari kisah bapak yang menyesali sikapnya, ketus dan sering marah kepada anaknya yang masih kecil, dan kemudian berusaha untuk memperbaiki dirinya. Berikut adalah penuturannya,
“Dengarlah, anakku: Ayah mengatakan hal ini di hadapanmu ketika kau sedang tertidur pulas. Kau letakkan tanganmu yang mungil di bawah pipimu, beberapa helai rambutmu yang pirang menempel di dahimu yang basah. Ayah diam-diam memasuki kamarmu. Beberapa saat yang lalu, ketika Ayah membaca buku di kamar kerja, tiba-tiba ayah dihantui rasa penyesalan yang mendalam. Oleh karena itu, sekarang ayah datang, duduk di sampingmu dengan perasaan penuh dengan dosa.

Wahai anakku, selama ini tidak terpikirkan olehku bahwa ayah telah bertindak ketus dan bersikap keras terhadapmu. Ayah membentakmu sewaktu kau memakai pakaian ketika hendak sekolah karena kau hanya mencuci muka saja. Ayah dibuat kesal olehmu karena kau tidak membersihkan sepatumu. Ayah berteriak marah-marah sewaktu kau terlantarkan mainanmu di lantai.

Pada waktu sarapan Ayah mendapatkanmu berbuat kesalahan juga. Kau tumpahkan makananmu, kau bunyikan meja dengan sikumu, kau cela makanan. Keju yang kau taruh di roti terlalu tebal. Dan sewaktu kau masih bermain-main sedangkan ayah sudah bersiap berangkat bekerja hendak ke stasiun kereta api, kau membalik sambil melambaikan tangan dan berseru, “Selamat jalan ayah!” Aku balas dengan cemberut lalu kukatakan, “Berdirilah dengan tegak!”

Di sore hari, terjadi lagi ketegangan. Sewaktu ayah berjalan pulang menuju rumah, ayah melihat kau sedang bermain kelereng sambil berlutut. Kulihat kaos kakimu berlubang. Kau kupermalukan di depan teman-temanmu dengan mendorongmu berjalan pulang di depanku. “Kaos kaki itu mahal dan andaikan kau membelinya dengan uangmu sendiri, kau pasti akan berhati-hati!” Bayangkan wahai anakku, apakah itu tindakan ayah yang baik?

Ingatkah kau—setelah itu—waktu ayah membaca di kamar kerja, lalu kau datang melongok dengan wajah yang murung, kau bolak-balik melongok ke kamar membuat ayah terganggu dan tidak konsentrasi dalam membaca sehingga aku membentakmu, “Mau apa?” Kau menjawab, “Tidak mau apa-apa.” Tetapi setelah itu kau lari menghampiriku dan merangkulku kuat-kuat lalu menciumku. Kedua lenganmu yang mungil merangkulku dengan kuat penuh kecintaan dari lubuk hati yang paling dalam, cinta yang tidak pernah layu dari seorang anak kepada ayahnya, meskipun aku memperlakukanmu dengan keras. Setelah itu kau berlari dan naik ke lantai atas.

Baik, anakku, tidak lama sesudah itu, bukuku terjatuh dari tanganku dan tiba-tiba ayah diliputi perasaan takut yang sangat dan merasa jijik terhadap diriku sendiri. Apa hasilnya dari kebiasaan burukku itu? Kebiasaan mencari-cari kesalahan, bersikap keras, inikah hadiah dari seorang ayah kepada anak yang masih kecil sepertimu? Tindakan kasarku bukan karena aku tidak mencintaimu, melainkan ayah menuntut terlalu banyak darimu. Ayah mengukur dirimu dengan ukuran orang dewasa.

Sungguh banyak sifat-sifat terpuji dalam kepribadianmu. Hatimu yang kecil bagaikan cahaya fajar yang menyinari cakrawala yang luas. Ini nampak ketika kau menghampiriku secara spontan dan menciumku sebelum tidur. Yang ayah pikirkan malam ini hanyalah dirimu. Ayah berada di sisimu dalam kegelapan, duduk berlutut, malu pada diriku sendiri!

Ini sedikit upaya untuk menghapus kesalahan, ayah tahu kau tidak akan mengerti semua ini jika kukatakan kepadamu. Tetapi besok, aku akan menjadi seorang ayah yang sesungguhnya, aku akan bersahabat denganmu, menderita bila kau menderita, sedih jika kau sedih dan ikut bergembira jika kau gembira. Lidahku akan kutahan, kalau ada perbuatanmu yang membuatku kesal. Ayah akan terus mengucapkan suatu kalimat yang akan kujadikan sebagai moto, ‘Maklum, ia masih anak-anak.’

Ayah takut memperlakukanmu sebagai orang dewasa sebagaimana sikapku selama ini kepadamu.Tapi, ketika aku memandangimu sekarang ini, wahai anakku, tidur meringkuk di kasurmu, aku memandangmu, kau adalah anak kecil. Sepertinya baru kemarin kau digendong ibumu, kepalamu menempel dibahunya. Ayah telah menuntutmu terlalu banyak, ayah telah menuntutmu terlalu banyak.” [1]

Kita sebagai muslim wajib menjadi ayah dan ibu yang baik bagi anak-anak kita. Sungguh prihatin dan mengenaskan jika kita mendengar anak-anak kecil diperlakukan dengan keras dan kasar. Mudah-mudahan kita mau berpikir, merenung, menyesali kesalahan dan memperbaikinya selagi masih diberi umur panjang, sebelum datangnya ajal.

——————
[1] Kaifa Tuatstsiru ‘alaa al-Aakhariin wa Taktasibu Al-Ashdiqaa’, hal. 18-20.

(29 Pelajaran Berharga dari Kisah Dai Cilik, Fariq Gasim Anuz, Penerbit: Darus Sunnah Jakarta)

  1. wiwin
    Oktober 21, 2009 pukul 10:04 am

    kisah yg menyentuh hati, mengingatkan betapa qt sering melakukan hal yg serupa. semoga qt diberi kemudahan untuk bersabar dan bersabar demi anak-anak qt. wahai anak-anakku, maafkan kami.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: