SERTAKANLAH NAMAKU BERSAMAMU DALAM DOAMU
‘Ala Banafi’ bekerja di sebuah toko di pusat kota di Jeddah. Ketika terjadi bencana alam “Tsunami” akhir tahun 2004 di Aceh dan wilayah lainnya, akhi ‘Ala aktif mengikuti berita musibah tersebut dan merasakan prihatin dan sedih atas bencana yang menimpa saudara-saudara kita di Aceh. Beliau sempat memberikan sebuah artikel dari internet sebagai bahan masukan bagi saya saat menyusun buku “Hikmah dibalik Musibah”, semoga Allah memberikan ganjaran di dunia dan akhirat atas kebaikannya tersebut.
Pernah terjadi suatu peristiwa sekitar 15 tahun lalu yang sangat berkesan bagi ‘Ala, beberapa waktu setelah ayahnya wafat, turunlah hujan dengan derasnya di kota Makkah tempat mereka tinggal, sampai-sampai air hujan mulai masuk ke dalam rumah membuat penghuni rumah menjadi panik. Adik perempuan ‘Ala yang masih kecil tanpa sadar berteriak dan memanggil ayahnya, “Abi!, Abi!, tolong kami!”. Adiknya secara refleks tanpa sadar memanggil ayahnya yang sangat ia cintai untuk menolongnya, padahal ayahnya telah wafat, semoga Allah merahmatinya.
‘Ala mempunyai adik laki-laki yang cacat, usianya 19 tahun. Sejak lahir ia hanya di tempat tidur. Ia menceritakan bagaimana kesabaran ibunya yang sampai sekarang tetap telaten merawat adiknya. Ala berkata bahwa jalan menuju sorga itu bermacam-macam, dan mungkin jalan ibunya menuju sorga adalah kesabarannya, yang pertama ditinggal wafat suaminya ketika anak-anaknya masih kecil dan kedua kesabarannya merawat anaknya yang cacat. Semoga harapan dan doa ‘Ala dikabulkan oleh Allah.
Saya teringat dengan sebuah pesan yang disampaikan seorang penyandang cacat bisu tuli, ia bernama Nail Munir berusia 30 tahun, warga Negara Saudi Arabia keturunan Banten Indonesia.. Beliau datang mencari saya ke kantor Islamic Center Di Jeddah pada awal bulan safar 1430 H , kami berkomunikasi dengan tulisan sampai menghabiskan beberapa lembar kertas bolak balik. Beliau ingin konsultasi tentang masalah pribadinya. Disela-sela komunikasi kami ada beberapa hal yang membuat saya kagum dan terharu darinya. Yang membuat saya kagum, akhi Nail meskipun cacat bisu dan tuli, beliau tidak minder dan tetap percaya diri, beliau pandai mengemudikan mobilnya sendiri. Hal itu saya ketahui ketika kami pergi ke rumah makan untuk makan malam bersamanya. Beliau meskipun cacat bisu dan tuli tidak menjadi beban bagi orang lain, akhi Nail bekerja di bagian tata usaha memegang komputer di sebuah sekolah luar biasa di kota Jeddah. Akhi Nail meskipun cacat bisu dan tuli tidak menghalanginya untuk tetap bermasyarakat dan berkomunikasi dengan manusia, beliau pandai berkomunikasi dengan bahasa isyarat kepada sesamanya dan berkomunikasi dengan bahasa tulisan dan bahasa isyarat kepada orang-orang yang normal yang beliau jumpai di toko, rumah makan, kantor Islamic center, pom bensin dan tempat-tempat umum lainnya, ia tidak menyendiri dan menjauhi manusia. Beliau meskipun cacat bisu dan tuli tidak menghalanginya untuk belajar dan memperdalam agama Islam lewat internet atau vcd/ dvd dimana ustadznya Syaikh Abdurrahman Jumáh dan selainnya menyampaikan berbagai materi pelajaran seperti tafsir Al Quran, Sirah Nabawiyyah, Sejarah Islam, Aqidah, Fiqih dengan bahasa isyarat. Jika akhi Nail ingin bertanya tentang masalah keislaman maka beliau mengirim sms kepada gurunya lalu gurunya menjawab lewat sms juga. Hal yang membuat saya terharu ketika akhi Nail meminta secarik kertas dan menasihati saya melalui tulisannya berbahasa Arab,
أنت لازم تتعلم لغة الإشارة
“Kamu harus belajar bahasa isyarat”
Ketika saya tanyakan mengapa? Beliau menjawab,
“Kasihan saudara-saudara kita di Indonesia yang tertimpa musibah cacat bisu dan tuli, bagaimana mereka bisa belajar Islam dan mengerti tauhid jika tidak ada yang mengajari dan membimbing mereka?”
Saya terharu membaca tulisannya yang menunjukkan kepekaan dan kehalusan perasaannya…
Maka dalam kesempatan ini saya menukilkan pesan akhi Nail ini kepada para aktivis dakwah dan mubaligh serta para penuntut ilmu di Indonesia, mudah-mudahan ada diantara kita yang memiliki kesempatan waktu dan mendapatkan taufik dari Allah sehingga dapat belajar bahasa isyarat dan mampu untuk berdakwah (secara langsung atau sebagai penerjemah) kepada saudara-saudara kita yang cacat bisu dan tuli.
Diantara sms yang dikirim oleh akhi ‘Ala kepada saya berisikan permohonan jika saya berdoa memohon jannah agar menyertakan namanya, juga mengingatkan kita untuk banyak melakukan shalat dan sujud kepada Allah sebagai kunci kebahagiaan, ia juga mendoakan untuk saya. Isi sms nya:
Ketika engkau memohon surga kepada Allah
Sertailah namaku bersama doamu
Karena sesungguhnya saya menginginkan
berdampingan denganmu di surga.
Ingatlah bahwa kunci kebahagiaan adalah
shalat dan sujud dihadapan Allah
Semoga Allah menjadikanmu
Sebagai golongan orang-orang yang berbahagia
Semoga Allah melindungimu dan keluargamu semuanya
dari segala bala bencana,
amin”
—— (Dari buku “Surat-Surat Cinta” hal 62-66, Oleh: Fariq Gasim Anuz, Penerbit: DarusSunnah Jakarta, Cetakan kedua, January 2010)
PELAJARAN KE-11: BEKERJA UNTUK MEMENUHI KEBUTUHAN DIRI DAN KELUARGANYA
Ahmad bercita-cita menjadi pedagang. Ketika saya ceritakan kepada teman-teman, mereka banyak yang menyayangkan mengapa ia tidak bercita-cita untuk menjadi ulama? Mengapa saya tidak mengarahkannya agar mengubah cita-citanya untuk menjadi ulama? Pertama, mungkin orangtua Ahmad telah mengarahkan anaknya agar ketika besar memilih menjadi pedagang. Sehingga saya merasa tidak berhak mengarahkan untuk bercita-cita kepada yang lain selama cita-citanya bukan maksiat.
Kedua, menurut saya tidak ada pertentangan antara menjadi pedagang dan ulama karena berapa banyak ulama-ulama Islam yang usahanya sebagai pedagang sebagaimana kita dapatkan dalam buku Siyar A’laam An-Nubalaa’ yang ditulis oleh Imam Adz-Dzahabi Rahimahullah. Nasihat untuk para orang tua hendaklah mengarahkan dan menumbuhkan minat anak agar memiliki cita-cita mulia dan disesuaikan dengan kebutuhan umat serta kemampuan dan bakat anak. Ketika anak sudah besar, janganlah memaksakan keinginan kepadanya, selama masih dalam batas-batas yang telah disebutkan di atas.
Diantara yang membantu seorang muslim pada umumnya dan seorang dai khususnya, dalam memelihara ilmu dan dirinya adalah dengan bekerja mencari nafkah dari jalan yang halal, seperti berdagang atau pekerjaan lainnya. Dengan bekerja, ia dapat memelihara kehormatan dirinya dengan tidak meminta-minta kepada orang lain serta tidak bergantung kepada manusia, tidak takut kepada mereka dan tidak menaruh harapan kepada mereka kecuali hanya kepada Allah.
Para nabi Alaihimush Salatu Was Salam dalam menjalankan dakwah, mereka tidak meminta upah, tidak mengharapkan balasan ataupun ucapan terimakasih. Mereka bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Nabi Zakaria Alaihis Salam adalah seorang yang pandai dalam perkayuan. Nabi Daud Alaihis Salam adalah seorang yang pandai dalam hal besi. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,
مَا أَكَلَ أَحَدٌ طَعَامًا قَطُّ خَيْرًا مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ، وَإِنَّ نَبِيَّ اللهِ دَاوُدَ –عَلَيْهِ السَّلاَمُ- كَانَ يَأْكُلُ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ. رواه البخاري
“Yang terbaik bagi seseorang dalam hal memakan makanan adalah dengan memakan dari hasil usahanya sendiri, dan sesungguhnya Nabi Allah Daud Alaihis Salam memakan dari hasil usahanya sendiri.” [1]
Pekerjaan yang mulia mendidik seseorang untuk bertawakal kepada Allah, melatih untuk menjadi orang yang rendah hati (tawadhu’) dan mendidik untuk menjadi orang yang bertanggungjawab.
Hendaklah ia, istri dan anak-anaknya menjadi orang yang qana’ah, selalu merasa cukup atas pemberian dan karunia Allah, jika mereka telah berdoa, berikhtiar dan berusaha dengan sungguh-sungguh. Hendaklah melihat orang yang berada di bawah kita dalam hal ekonomi dan urusan keduniaan. Sehingga selalu bersyukur kepada Allah atas segala nikmat-Nya yang tidak terhingga dan tidak terbilang.
Adapun dalam urusan ibadah, ilmu agama dan amal saleh lainnya hendaklah melihat orang yang berada di atas, sehingga terhindar dari ujub dan sombong. Bahkan kita harus selalu merasa sedikit dalam ibadah dan amal saleh. Dengan demikian akan memotifasi kita agar lebih giat lagi dalam mengoreksi diri dan berupaya selalu meluruskan niat serta meningkatkan ibadah dan amal saleh.
Dalam bekerja seperti berdagang atau lainnya, jangan sampai melalaikan seseorang dari kewajiban-kewajiban seperti salat, puasa, zakat, haji, berbakti kepada kedua orangtua, mendidik istri dan anak-anaknya, silaturahmi, menuntut ilmu agama dan lainnya. Hendaklah seorang muslim sadar bahwa tujuan yang hakiki dalam hidup di dunia adalah agar menjadi hamba Allah yang sejati, menjadikan dunia sebagai ladang untuk akhirat. Allah berfirman yang artinya,
“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagiaanmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS. Al-Qashash: 77);
“Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah, dan (dari) mendirikan salat, dan (dari) membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang. (Mereka mengerjakan yang demikian itu) supaya Allah memberi balasan kepada mereka (dengan balasan) yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan, dan supaya Allah menambah karunia-Nya kepada mereka. Dan Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa batas.” (QS. An-Nuur: 37-38 )
Memang dunia dengan segala keindahannya menarik hati manusia dan membuat mereka terpesona. Sedikit demi sedikit, tanpa sadar manusia rela menggadaikan akidah dan keimanannya untuk meraih ambisi berupa kenikmatan dunia yang semu dan melalaikan. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,
مَا ذِئْبَانِ جَائِعَانِ أُرْسِلاَ فِى غَنَمٍ بِأَفْسَدَ لَهَا مِنْ حِرْصِ الْمَرْءِ عَلَى الْمَالِ وَالشَّرَفِ لِدِينِهِ. رواه أحمد والترمذي وغيرهما
“Dua ekor serigala yang lapar kemudian dilepas menuju seekor kambing, (maka kerusakan yang terjadi pada kambing itu) tidak lebih besar dibandingkan dengan kerusakan pada agama seseorang yang ditimbulkan akibat ambisi terhadap harta dan kehormatan..” [2]
Hadits di atas telah dijelaskan oleh Imam Ibnu Rajab Rahimahullah dalam sebuah buku tersendiri dan telah diringkas ke dalam bahasa Indonesia serta dimuat di bagian akhir buku “Tabir Hidayah (10 Penghalang Untuk Mengikuti Kebenaran)”.
Kita harus hati-hati, jangan mudah mengklaim orang lain sebagai orang yang lalai dan tenggelam dalam kehidupan dunia. Hal itu nantinya akhirnya nanti akan berbalik kepada diri sendiri, semoga Allah melindungi diri kita semua dari fitnah dunia.
Hidup adalah ujian, hidup ini dipenuhi dengan tantangan, rintangan dan batu sandungan. Hendaklah selalu berdoa kepada Allah agar menyelamatkan kita dari segala ketergelinciran, membahagiakan kita di dunia dan akhirat, memberi kita rezeki yang halal dan memberkahi usaha kita dan melindungi dari rezeki yang haram. Kita mohon kepada Allah agar dikaruniai ilmu yang bermanfaat sehingga dapat membedakan yang halal dan yang haram. Menetapkan kesabaran agar dapat beristiqamah dalam berpegang teguh kepada kebenaran di tengah-tengah badai godaan, bujukan dan rintangan. Semoga Allah menjadikan kita selalu ingat akan kematian dan menjadikan akhir hidup kita di dunia dalam keadaan husnul khatimah.
Imam Syafi’i Rahimahullah berkata,
عَلَيْكَ بِتَقْوَى اللهِ إِنْ كُنْتَ غَافِلاً يَأْتِيْكَ بِالْأَرْزَاقِ مِنْ حَيْثُ لاَتَدْرِيْفَكَيْفَ
تَخَافُ الْفَقْرَ وَاللهُ رَازِقًا فَقَدْ رَزَقَ الطَّيْرَ وَالْحُوْتَ فِى الْبَحْرِ
وَمَنْ ظَنَّ أَنَّ الرِّزْقَ يَأْتِيْ بِقُوَّةٍ مَا أَكَلَ الْعُصْفُوْرُ شَيْئًا مَعَ النَّسْرِ
تَزُوْلُ عَنِ الدُّنْيَا فَإِنَّكَ لاَ تَدْرِيْ إِذَا جَنَّ عَلَيْكَ اللَّيْلُ هَلْ تَعِيْشُ إِلَى الْفَجْرِ
فَكَمْ مِنْ صَحِيْحٍ مَاتَ مِنْ غَيْرِ عِلَّةٍ وَكَمْ مِنْ سَقِيْمٍ عَاشَ حِيْنًا مِنَ الدَّهْرِ
وَكَمْ مِنْ فَتًى أَمْسَى وَأَصْبَحَ ضَاحِكًا وَأَكْفَانُهُ فِى الْغَيْبِ تُنْسَجُ وَهْوَ لاَ يَدْرِيْ
فَمَنْ عَاشَ أَلْفًا وَأَلْفَيْنِ فَلاَ بُدَّ مِنْ يَوْمٍ يَسِيْرُ إِلَى الْقَبْرِ
Bertakwalah kepada Allah jika kamu lalai
Niscaya dia memberimu rezeki dari jalan yang tidak kamu ketahui
Bagaimana kamu takut kefakiran padahal Allah pemberi rezeki
Dia memberi rezeki kepada burung dan ikan di laut bahari
Barangsiapa menyangka bahwa kekuatan mendatangkan rezeki
Tentu burung pipit kalah dengan burung elang tidak mendapat rezeki
Kamu pasti akan meninggalkan dunia dan kamu tidak mengetahui
Apabila malam tiba apakah kamu akan tetap hidup sampai besok pagi
Berapa banyak orang sehat yang meninggal tanpa sakit lagi
Berapa banyak orang sakit yang tetap hidup bertahun-tahun lagi
Berapa banyak anak muda yang tertawa-tawa ketika sore dan pagi
Padahal kain kafannya sedang dijahit sedang dia tidak menyadari
Barangsiapa dapat hidup seribu atau dua ribu tahun lagi
Ia akan mendatangi kubur dan itu sudah pasti
———–
[1] HR. Bukhari. Lihat kitaabul buyuu’, No. 2072 dan Fathul Baari, jilid 4, hal. 355.
[2] HR. Ahmad, An-Nasa’i, At-Tirmidzi dan Ibnu Hibban dalam Shahihnya. Syaikh Muhammad As-Subhi Hasan Hallaq mengatakan, Hadits ini telah dishahihkan oleh At-Tirmidzi, Ibnu Hibban, Al-Albani dan yang lainnya.
(29 Pelajaran Berharga dari Kisah Dai Cilik, Fariq Gasim Anuz, Penerbit: Darus Sunnah Jakarta)
PELAJARAN KE-3: PERHATIAN ORANGTUA UNTUK KESELAMATAN ANAKNYA
Ibu Ahmad berkata, “Hanya saja karena anak ini masih kecil, kami tidak pernah membiarkannya pergi seorang diri. Meskipun ke sekolah, selalu kami antar-jemput. Jadi, bagaimana sekiranya dari pihak keluarga ikut juga ke bandara bersama Anda?”
Orangtua Ahmad tidak membiarkan anaknya pergi sendiri ke sekolah, bandara atau tempat lainnya dalam rangka menjaga keselamatannya. Jika Ahmad pergi ke rumah temannya, maka ibu Ahmad menelepon ibu temannya. Jika ibu temannya ada di rumah, maka Ahmad akan diizinkan untuk bermain di sana. Jika ibu temannya tidak ada di rumah, maka Ahmad tidak akan diizinkan pergi.
Saat ini, banyak anak kecil menjadi korban pelecehan seksual, perkosaan dan sodomi. Hendaknya para orangtua lebih memperketat penjagaan dan pengawasan terhadap anak-anak mereka. Diantara penyebab terjadinya perkosaan adalah karena lemahnya iman, selalu mengumbar nafsu serta turut pada kemauan setan. Diantara penyebab terjadinya perzinaan dan perkosaan adalah tidak bisa menundukkan pandangan mata dari melihat perkara yang haram. Acara di televisi yang mengumbar aurat, sebagian koran, tabloid dan majalah yang mengeksploitasi perempuan sebagai barang tontonan. Belum lagi buku-buku dan VCD porno mudah didapat dengan harga yang murah.
Semua ini adalah tantangan yang berat bagi setiap orangtua. Semoga Allah memudahkan kita sebagai orangtua untuk menjadi teladan yang baik bagi anak-anak dengan tidak membaca atau melihat tayangan yang mempertontonkan aurat. Dan semoga Allah memudahkan kita agar dapat menundukkan pandangan mata dari perkara yang diharamkan. Di antara sebab perzinaan adalah pergaulan bebas antara laki-laki dan perempuan. Selain itu, diantara sebab yang dapat mendatangkan murka Allah dan membuat malu keluarga adalah kurangnya perhatian dan pengawasan orangtua terhadap anak.
Tindakan-tindakan yang bisa dilakukan oleh orangtua untuk menjaga keselamatan anaknya:
1. Di samping orangtua, bisa juga saudara atau orang kepercayaan untuk mengantar jemput anak yang masih kecil ketika bersekolah.
2. Setelah maghrib anak harus sudah ada di rumah, kecuali untuk keperluan yang mendesak. Itu pun hendaknya diantar oleh mahram.
3. Melarang anak untuk berduaan dengan lawan jenis yang bukan mahramnya. Melarangnya berpacaran dan menjelaskan bahayanya.
4. Tidak membiarkan anak yang masih kecil berduaan dengan orang lain di tempat yang tidak terlihat, terlebih lagi dengan orang yang belum kita kenal betul dalam rangka mencegah pintu masuknya setan.
5. Bermusyawarah dengan orang bijak yang takut kepada Allah tentang masalah anaknya.
6. Hendaknya orangtua selalu berdoa kepada Allah agar sang anak selalu mendapat perlindungan-Nya. Karena doa orangtua untuk anaknya, insya Allah dikabulkan. Pernah seseorang menceritakan kisah masa remajanya kepada saya. Ia berkata, “Ketika SMA, ada seorang teman yang kecanduan narkoba. Saya menjadi penasaran dan ingin mencobanya. Suatu saat saya minta pil narkoba kepadanya dan kemudian dijanjikan akan diberi setelah pulang sekolah. Hari itu, saya menggunakan topi untuk menutupi rambut yang tipis karena baru dicukur. Di kelas, teman yang berjanji akan memberi pil “Setan” datang mendekat dan mengambil topi dari atas kepala. Saya menjadi malu dibuatnya. Kontan saja kukejar anak itu, hingga akhirnya seorang guru menegur aksi kejar-kejaran kami. Teguran guru tersebut membuat hatiku jengkel dan kesal terhadapnya. Sehingga ketika ia memberiku pil “setan” sepulang sekolah, langsung kutolak mentah-mentah lantaran rasa kesal yang masih memuncak. Padahal, terus terang ingin sekali rasanya mencicipi pil tersebut. Alhamdulillah, sejak saat itu dan sampai sekarang, saya belum pernah mencobanya. Bisa dibayangkan, kalau saat itu saya mencoba sekali saja, bisa-bisa kecanduan dan mendapat murka Allah—na’uudzubillah min dzaalik. Saya yakin sebabnya adalah doa orangtua yang selalu meminta kepada Allah agar saya selalu dilindungi-Nya.”
Prof. Dr. Shalih bin Husein Al-Ayid berkata, “Sesungguhnya doa ibu tidak mungkin meleset, ibuku -semoga Allah merahmatinya- selalu rida terhadap anak-anaknya dan sangat mencintai mereka. Oleh karena itu, ia selalu berdoa memohon kebaikan untuk mereka di setiap waktu. Berdoa dengan hati yang bersih tanpa ada dendam dan kebencian. Hingga saya melihat seluruh urusanku adalah hasil dari doa beliau secara nyata dan tidak ada keraguan sedikit pun. Berapa banyak pintu kebaikan terbuka untukku dengan tidak disangka-sangka dan berapa banyak tipu daya orang-orang yang hasad dan dengki menjadi runtuh karena karunia Allah disebabkan dikabulkannya doa-doa ibuku.” [1]
7. Hendaknya orangtua selalu bertakwa, taat dan patuh kepada Allah dengan melaksanakan perintah-Nya dan meninggalkan larangan-Nya. Imam Ibnu Rajab Rahimahullah berkata dalam bukunya Jami’ul ‘Uluum wa al-Hikam, “Bisa jadi Allah melindungi seorang anak yang orangtuanya telah meninggal disebabkan kesalehan orangtuanya tersebut. Sebagaimana terdapat dalam firman Allah yang artinya,
‘Adapun dinding rumah itu adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang saleh, maka Tuhanmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Tuhanmu….’ (QS. Al-Kahfi: 82)
Keduanya dilindungi Allah disebabkan kesalehan ayahnya.”
———–
[1] Dam’ah ‘alaa Qabri Ummii, hal. 45
(29 Pelajaran Berharga dari Kisah Dai Cilik, Fariq Gasim Anuz, Penerbit: Darus Sunnah Jakarta)
PELAJARAN KE-8: SABAR DAN LEMAH LEMBUT KEPADA ANAK-ANAK
“Pengurus Islamic Center tidak menggubris Ahmad dan tetap berbicara dengan tamunya. Ia tidak marah dan memaklumi bahwa yang mengganggunya adalah anak-anak.”
Saya belajar tentang kesabaran pengurus kantor Islamic Center yang tidak marah kepada anak kecil. Ia cukup mendiamkannya dan terus berbicara kepada tamunya. Hendaklah kita meneladani Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dalam segala hal termasuk kesabaran dan sifat santun beliau. Sebagaimana terdapat dalam Shahih Bukhari ketika Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam sedang berbicara di hadapan suatu kaum lalu datanglah orang Arab Badui dan bertanya, “Kapan terjadinya kiamat?” Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tetap meneruskan pembicaraannya. Sebagian orang mengatakan bahwa beliau mendengar pertanyaan orang tersebut tapi tidak suka dengan ucapannya. Sebagian lagi mengatakan, beliau tidak mendengar orang tersebut bertanya. Sampai beliau selesai dengan pembicaraannya, setelah itu bertanya, “Mana orang yang bertanya tentang hari kiamat?” Orang itu menjawab, “Saya, wahai Rasulullah.” … dan seterusnya.
Diantara bentuk kasih sayang dan kelembutan terhadap anak-anak adalah dengan mengusap kepalanya. Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma—umur Ibnu Abbas ketika Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam wafat baru 13 tahun—berkata bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah mengusap kepalanya sembari mendoakannya.
Anak kecil, terkadang, senang bersenda gurau dan berbuat usil. Jika kita membentaknya, maka hal itu akan melukai perasaan dan mengganggu kejiwaannya. Sehingga dia lebih senang untuk menyendiri dan menghindar untuk bergaul dengan orang yang lebih dewasa. Hadapilah perbuatan iseng mereka dengan senyum dan kekaguman. Arahkan agar mereka tidak berbuat kurang ajar dengan cara yang lembut sehingga mereka akan senang kepada kita dan termotivasi untuk bergaul dengan orang yang lebih tua.
Bila kita berjumpa dengan anak-anak sedang bermain di jalan, apa yang akan kita lakukan? Di antara kita ada yang menegur mereka, “Main saja! Ayo pulang!”, atau teguran lain yang menunjukkan ketidaksukaan kita kepada mereka. Ada pula yang nenggunakan cara tidak berkomentar apa-apa.
Marilah kita perhatikan cerita Anas bin Malik Radhiyallahu Anhu yang sejak usia sepuluh tahun dibawa ibunya kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam untuk menjadi pembantu beliau. Anas Radhiyallahu Anhu membantu Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam selama sepuluh tahun lamanya. Ia Radhiyallahu Anhu berkata, “Suatu hari saya membantu Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam sampai saya berpendapat telah menyelesaikan pekerjaanku dan biasanya Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasalam melakukan qailulah ‘istirahat sebentar di siang hari’ maka saya keluar menemui anak-anak lainnya yang sedang bermain dan saya menonton permainan mereka. Lalu datanglah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam sambil mengucapkan salam kepada anak-anak yang sedang bermain, kemudian beliau memanggilku dan menyuruhku untuk suatu keperluan beliau. Saya pergi menjalankan tugas beliau sedangkan beliau duduk di tempat yang teduh sampai saya datang.” (HR. Ahmad)
Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak marah kepada Anas yang sedang menonton anak-anak bermain dan keluar rumah tanpa pamit karena Anas menyangka beliau sedang istirahat. Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam juga menghargai anak-anak kecil dengan mengucapkan salam kepada mereka.
Orangtua dan pendidik haruslah bersikap sabar dan lemah lembut kepada anak atau siswanya, terutama saat memberi nasihat. Imam Ibnul Qayyim Rahimahullah berkata, “Perbedaan antara nasihat dan kecaman adalah bahwa nasihat itu merupakan perbuatan baik kepada orang-orang yang engkau nasihati dalam bentuk kasih sayang, rasa kasihan, cinta dan cemburu. Nasihat itu semata-mata perbuatan baik yang didasari kasih sayang dan kelembutan dan dimaksudkan hanya untuk mencari rida Allah dan wajah-Nya kemudian sebagai kebaikan untuk makhluk-Nya. Dia bersikap lemah-lembut semaksimal mungkin dalam menjalankan nasihat tersebut dan sabar dalam menerima gangguan dan celaan dari orang-orang yang dinasihatinya dan menyikapinya seperti sikap seorang dokter yang ahli. Penuh kasih sayang kepada pasiennya yang menderita sakit komplikasi dan dalam keadaan setengah sadar. Dia sabar menghadapi kekurangajaran pasiennya dan tindak-tanduknya yang tidak tahu aturan. Dokter juga tetap bersikap lemah lembut dan merayunya dengan berbagai cara agar si pasien mau meminum obat. Begitulah sikap seorang pemberi nasihat”. (Ar Ruuh hal. 381)
Ada seorang anak kecil berumur enam tahun ingin menggembirakan adiknya yang berumur dua tahun dengan memboncengnya naik sepeda. Si kakak duduk di depan dan si adik duduk di belakang, padahal ia belum bisa menjaga keseimbangan diri. Sang ayah yang melihat kejadian tersebut, tanpa pikir panjang berlari dan mengambil anaknya yang duduk di belakang. Kemudian langsung memukul anaknya yang berumur enam tahun—yang saat itu belum mengerti bahwa tindakan tersebut dapat membahayakan adiknya—. Anak yang dipukul menangis dan si ayah pun menyesal, mengapa dia harus memukul padahal cukup dijelaskan bahwa tindakan tersebut membahayakan adiknya. Termasuk ciri orang yang bertakwa adalah orang yang dapat menahan marah.
Dalam praktiknya, bersikap lembut dan menahan emosi terhadap perilaku anak kecil, tidaklah mudah. Namun demikian, kita harus berusaha mengendalikan emosi dalam menghadapi anak karena:
- Takut kepada Allah mengingat anak adalah amanat.
- Mengharap rida Allah dan ganjaran-Nya.
- Agar kita mendapatkan predikat sebagai orang yang baik sesuai dengan kriteria yang disebutkan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, “Sebaik-baik kalian adalah yang terbaik terhadap keluarganya…”
- Agar anak kita tumbuh menjadi anak yang saleh dan berbakti kepada orangtua.
Hendaklah kita mengambil pelajaran dari kisah bapak yang menyesali sikapnya, ketus dan sering marah kepada anaknya yang masih kecil, dan kemudian berusaha untuk memperbaiki dirinya. Berikut adalah penuturannya,
“Dengarlah, anakku: Ayah mengatakan hal ini di hadapanmu ketika kau sedang tertidur pulas. Kau letakkan tanganmu yang mungil di bawah pipimu, beberapa helai rambutmu yang pirang menempel di dahimu yang basah. Ayah diam-diam memasuki kamarmu. Beberapa saat yang lalu, ketika Ayah membaca buku di kamar kerja, tiba-tiba ayah dihantui rasa penyesalan yang mendalam. Oleh karena itu, sekarang ayah datang, duduk di sampingmu dengan perasaan penuh dengan dosa.
Wahai anakku, selama ini tidak terpikirkan olehku bahwa ayah telah bertindak ketus dan bersikap keras terhadapmu. Ayah membentakmu sewaktu kau memakai pakaian ketika hendak sekolah karena kau hanya mencuci muka saja. Ayah dibuat kesal olehmu karena kau tidak membersihkan sepatumu. Ayah berteriak marah-marah sewaktu kau terlantarkan mainanmu di lantai.
Pada waktu sarapan Ayah mendapatkanmu berbuat kesalahan juga. Kau tumpahkan makananmu, kau bunyikan meja dengan sikumu, kau cela makanan. Keju yang kau taruh di roti terlalu tebal. Dan sewaktu kau masih bermain-main sedangkan ayah sudah bersiap berangkat bekerja hendak ke stasiun kereta api, kau membalik sambil melambaikan tangan dan berseru, “Selamat jalan ayah!” Aku balas dengan cemberut lalu kukatakan, “Berdirilah dengan tegak!”
Di sore hari, terjadi lagi ketegangan. Sewaktu ayah berjalan pulang menuju rumah, ayah melihat kau sedang bermain kelereng sambil berlutut. Kulihat kaos kakimu berlubang. Kau kupermalukan di depan teman-temanmu dengan mendorongmu berjalan pulang di depanku. “Kaos kaki itu mahal dan andaikan kau membelinya dengan uangmu sendiri, kau pasti akan berhati-hati!” Bayangkan wahai anakku, apakah itu tindakan ayah yang baik?
Ingatkah kau—setelah itu—waktu ayah membaca di kamar kerja, lalu kau datang melongok dengan wajah yang murung, kau bolak-balik melongok ke kamar membuat ayah terganggu dan tidak konsentrasi dalam membaca sehingga aku membentakmu, “Mau apa?” Kau menjawab, “Tidak mau apa-apa.” Tetapi setelah itu kau lari menghampiriku dan merangkulku kuat-kuat lalu menciumku. Kedua lenganmu yang mungil merangkulku dengan kuat penuh kecintaan dari lubuk hati yang paling dalam, cinta yang tidak pernah layu dari seorang anak kepada ayahnya, meskipun aku memperlakukanmu dengan keras. Setelah itu kau berlari dan naik ke lantai atas.
Baik, anakku, tidak lama sesudah itu, bukuku terjatuh dari tanganku dan tiba-tiba ayah diliputi perasaan takut yang sangat dan merasa jijik terhadap diriku sendiri. Apa hasilnya dari kebiasaan burukku itu? Kebiasaan mencari-cari kesalahan, bersikap keras, inikah hadiah dari seorang ayah kepada anak yang masih kecil sepertimu? Tindakan kasarku bukan karena aku tidak mencintaimu, melainkan ayah menuntut terlalu banyak darimu. Ayah mengukur dirimu dengan ukuran orang dewasa.
Sungguh banyak sifat-sifat terpuji dalam kepribadianmu. Hatimu yang kecil bagaikan cahaya fajar yang menyinari cakrawala yang luas. Ini nampak ketika kau menghampiriku secara spontan dan menciumku sebelum tidur. Yang ayah pikirkan malam ini hanyalah dirimu. Ayah berada di sisimu dalam kegelapan, duduk berlutut, malu pada diriku sendiri!
Ini sedikit upaya untuk menghapus kesalahan, ayah tahu kau tidak akan mengerti semua ini jika kukatakan kepadamu. Tetapi besok, aku akan menjadi seorang ayah yang sesungguhnya, aku akan bersahabat denganmu, menderita bila kau menderita, sedih jika kau sedih dan ikut bergembira jika kau gembira. Lidahku akan kutahan, kalau ada perbuatanmu yang membuatku kesal. Ayah akan terus mengucapkan suatu kalimat yang akan kujadikan sebagai moto, ‘Maklum, ia masih anak-anak.’
Ayah takut memperlakukanmu sebagai orang dewasa sebagaimana sikapku selama ini kepadamu.Tapi, ketika aku memandangimu sekarang ini, wahai anakku, tidur meringkuk di kasurmu, aku memandangmu, kau adalah anak kecil. Sepertinya baru kemarin kau digendong ibumu, kepalamu menempel dibahunya. Ayah telah menuntutmu terlalu banyak, ayah telah menuntutmu terlalu banyak.” [1]
Kita sebagai muslim wajib menjadi ayah dan ibu yang baik bagi anak-anak kita. Sungguh prihatin dan mengenaskan jika kita mendengar anak-anak kecil diperlakukan dengan keras dan kasar. Mudah-mudahan kita mau berpikir, merenung, menyesali kesalahan dan memperbaikinya selagi masih diberi umur panjang, sebelum datangnya ajal.
——————
[1] Kaifa Tuatstsiru ‘alaa al-Aakhariin wa Taktasibu Al-Ashdiqaa’, hal. 18-20.
(29 Pelajaran Berharga dari Kisah Dai Cilik, Fariq Gasim Anuz, Penerbit: Darus Sunnah Jakarta)
PELAJARAN KE-26: KESEHATAN ADALAH AMANAT
Ahmad yang masih berusia 12 tahun mampu menjaga kesehatannya dengan tidak meminum pepsi cola. Keluarga Ahmad menyadari bahwa kesehatan adalah nikmat sekaligus amanat. Diantara cara mensyukuri nikmat Allah adalah dengan tidak mengonsumsi hal-hal yang berbahaya bagi tubuh. Orang tua Ahmad, ketika belanja, mengajarkan anak-anaknya cara memilih makanan atau minuman untuk meminimalkan pengaruh negatif dari bahan-bahan kimia pada makanan.
Hendaknya kita merenung dan mengintrospeksi diri, sejauh mana perhatian kita dalam menjaga kesehatan tubuh. Jika anak kecil saja mampu menahan diri dari minum pepsi, apakah kita tidak mampu melawan hawa nafsu untuk berhenti merokok yang mudaratnya jauh lebih besar dari pepsi. Kalau kita belum bisa berhenti merokok, mengapa kita masih saja egois dan tidak peduli dengan merokok di tempat umum. Padahal telah jelas bahayanya bagi orang yang menghirup asap rokok. Islam pun adalah agama yang mengajarkan agar tidak merugikan orang lain. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,
“Orang muslim adalah orang yang tidak menyakiti kaum muslimin lainnya baik dengan lisan maupun tangannya.” (HR. Muslim)
Saya pernah membaca artikel surat kabar yang ditulis seorang mahasiswa Jepang yang kuliah di Jawa Tengah. Ia menunjukkan keprihatinannya terhadap sebagian masyarakat kita yang belum bisa menghargai orang lain dengan merokok di kendaraan umum.
Saya nasihatkan pula kepada orang yang masih suka meminum minuman keras dan mengonsumsi narkoba. Sadar dan segeralah bertobat kepada Allah sebelum datang kematian yang tiba-tiba.
Bagi para pedagang makanan dan minuman, termasuk mereka yang memproduksinya, hendaklah takut kepada Allah. Jangan sampai karena ingin mendapatkan keuntungan materi, mereka tega menjual dan memproduksi makanan atau minuman yang membahayakan kesehatan konsumen.
(29 Pelajaran Berharga dari Kisah Dai Cilik, Fariq Gasim Anuz, Penerbit: Darus Sunnah Jakarta)
SEORANG AYAH BERTAUBAT DENGAN SEBAB ANAKNYA YANG MASIH BERUSIA 7 TAHUN
Satu lagi, kisah nyata di zaman ini. Seorang penduduk Madinah berusia 37 tahun, telah menikah, dan mempunyai beberapa orang anak. Ia termasuk orang yang suka lalai, dan sering berbuat dosa besar, jarang menjalankan shalat, kecuali sewaktu-waktu saja, atau karena tidak enak dilihat orang lain.
Penyebabnya, tidak lain karena ia bergaul akrab dengan orang-orang jahat dan para dukun. Tanpa ia sadari, syetan setia menemaninya dalam banyak kesempatan.
Ia bercerita mengisahkan tentang riwayat hidupnya:
“Saya memiliki anak laki-laki berusia 7 tahun, bernama Marwan. Ia bisu dan tuli. Ia dididik ibunya, perempuan shalihah dan kuat imannya.
Suatu hari setelah adzan maghrib saya berada di rumah bersama anak saya, Marwan. Saat saya sedang merencanakan di mana berkumpul bersama teman-teman nanti malam, tiba-tiba, saya dikejutkan oleh anak saya. Marwan mengajak saya bicara dengan bahasa isyarat yang artinya, ”Mengapa engkau tidak shalat wahai Abi?”
Kemudian ia menunjukkan tangannya ke atas, artinya ia mengatakan bahwa Allah yang di langit melihatmu.
Terkadang, anak saya melihat saya sedang berbuat dosa, maka saya kagum kepadanya yang menakut-nakuti saya dengan ancaman Allah.
Anak saya lalu menangis di depan saya, maka saya berusaha untuk merangkulnya, tapi ia lari dariku.
Tak berapa lama, ia pergi ke kamar mandi untuk berwudhu, meskipun belum sempurna wudhunya, tapi ia belajar dari ibunya yang juga hafal Al-Qur’an. Ia selalu menasihati saya tapi belum juga membawa faidah.
Kemudian Marwan yang bisu dan tuli itu masuk lagi menemui saya dan memberi isyarat agar saya menunggu sebentar… lalu ia shalat maghrib di hadapan saya.
Setelah selesai, ia bangkit dan mengambil mushaf Al-Qur’an, membukanya dengan cepat, dan menunjukkan jarinya ke sebuah ayat (yang artinya):
”Wahai bapakku, sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan ditimpa adzab dari Allah Yang Maha Pemurah, maka kamu menjadi kawan bagi syaithan” (Maryam: 45)
Kemudian, ia menangis dengan kerasnya. Saya pun ikut menangis bersamanya. Anak saya ini yang mengusap air mata saya.
Kemudian ia mencium kepala dan tangan saya, setalah itu berbicara kepadaku dengan bahasa isyarat yang artinya, ”Shalatlah wahai ayahku sebelum ayah ditanam dalam kubur dan sebelum datangnya adzab!”
Demi Allah, saat itu saya merasakan suatu ketakutan yang luar biasa. Segera saya nyalakan semua lampu rumah. Anak saya Marwan mengikutiku dari ruangan satu ke ruangan lain sambil memperhatikan saya dengan aneh.
Kemudian, ia berkata kepadaku (dengan bahasa isyarat), ”Tinggalkan urusan lampu, mari kita ke Masjid Besar (Masjid Nabawi).”
Saya katakan kepadanya, ”Biar kita ke masjid dekat rumah saja.”
Tetapi anak saya bersikeras meminta saya mengantarkannya ke Masjid Nabawi.
Akhirnya, saya mengalah kami berangkat ke Masjid Nabawi dalam keadaan takut… Dan Marwan selalu memandang saya.
Kami masuk menuju Raudhah. Saat itu Raudhah penuh dengan manusia, tidak lama datang waktu iqamat untuk shalat isya’, saat itu imam masjid membaca firman Allah (yang artinya),
”Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syetan. Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah syetan, maka sesungguhnya syetan itu menyuruh mengerjakan perbuatan keji dan munkar. Sekiranya tidaklah karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorang pun bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan munkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui” (An-Nuur: 21)
Saya tidak kuat menahan tangis. Marwan yang berada disampingku melihat aku menangis, ia ikut menangis pula. Saat shalat ia mengeluarkan tissue dari sakuku dan mengusap air mataku dengannya.
Selesai shalat, aku masih menangis dan ia terus mengusap air mataku. Sejam lamanya aku duduk, sampai anakku mengatakan kepadaku dengan bahasa isyarat, ”Sudahlah wahai Abi!”
Rupanya ia cemas karena kerasnya tangisanku. Saya katakan, ”Kamu jangan cemas.”
Akhirnya, kami pulang ke rumah. Malam itu begitu istimewa, karena aku merasa baru terlahir kembali ke dunia.
Istri dan anak-anakku menemui kami. Mereka juga menangis, padahal mereka tidak tahu apa yang terjadi.
Marwan berkata tadi Abi pergi shalat di Masjid Nabawi. Istriku senang mendapat berita tersebut dari Marwan yang merupakan buah dari didikannya yang baik.
Saya ceritakan kepadanya apa yang terjadi antara saya dengan Marwan. Saya katakan, “Saya bertanya kepadamu dengan menyebut nama Allah, apakah kamu yang mengajarkannya untuk membuka mushaf Al-Qur’an dan menunjukkannya kepada saya?”
Dia bersumpah dengan nama Allah sebanyak tiga kali bahwa ia tidak mengajarinya. Kemudian ia berkata, “Bersyukurlah kepada Allah atas hidayah ini.”
Malam itu adalah malam yang terindah dalam hidup saya. Sekarang -alhamdulillah- saya selalu shalat berjamaah di masjid dan telah meninggalkan teman-teman yang buruk semuanya. Saya merasakan manisnya iman dan merasakan kebahagiaan dalam hidup, suasana dalam rumah tangga harmonis penuh dengan cinta, dan kasih sayang.
Khususnya kepada Marwan saya sangat cinta kepadanya karena telah berjasa menjadi penyebab saya mendapatkan hidayah Allah.”
( “Da’i Cilik”, Fariq Gasim Anuz, Penerbit: Darul Falah, Jakarta, Indonesia )
KISAH RELAWAN CILIK (DIA BERUSIA 12 TAHUN)
Oleh: Fariq Gasim Anuz
Mendaftarkan Diri Menjadi Relawan
Pada pagi yang cerah, di kota Jeddah, sekitar pertengahan bulan Dzulhijjah 1425H, atau akhir Januari 2005 M. Saat itu, saya sedang duduk di kantor Jeddah Da’wah Center (JDC) bersama rekan. Tiba-tiba masuklah seorang anak kecil sambil mengucapkan salam, lalu menyalami kami berdua. Ia datang ke kantor JDC diantar supirnya yang berasal dari Indonesia, sementara ibu dan neneknya menunggu di mobilnya.
Anak ini masuk ke ruang sekretariat sendiri seraya mengatakan: “Saya ingin menjadi relawan di kantor dakwah ini. Ingin berkhidmat untuk kepentingan agama Islam.”
Saya dibuat kagum dengannya. Saya sambut dengan baik dan saya katakan: “Kira-kira, di bidang apa Anda bisa membantu kami?”
Dia katakan, “Saya mampu menggunakan komputer dan bisa berbahasa Inggris.”
Karena saya tidak bisa berbahasa Inggris, maka saya minta rekan saya untuk berbicara dengannya dengan bahasa Inggris. Setelah terjadi komunikasi antara teman dan anak ini, teman saya pun memberitahu saya: “Bagus sekali anak ini bahasa Inggrisnya”.
Saya katakan, “Saya belum bisa memutuskan apakah Anda bisa diterima atau tidak. Insya Allah akan saya sampaikan kepada direktur yang juga seorang relawan. Beliau sendiri bekerja di kantor Telkom Saudi. Tapi saya optimis, kalau orang seperti Anda akan diterima, insya Allah.” Lalu saya minta nomor teleponnya dan saya berikan juga nomor telepon kantor kepadanya. Lalu saya katakan: “Saya sendiri, insya Allah ada acara dakwah untuk jamaah haji Indonesia yang akan pulang ke tanah air. Anda bisa ikut bantu saya dengan membagikan kaset atau buku di air port haji di madinatul hujjaj (asrama haji) di Jeddah, bagaimana?”
Anak itu menjawab, “Insya Allah. Saya akan minta izin orang tua dulu.”
Sore harinya, orang tua Ahmad (nama anak ini), menelepon ke kantor kami mencari saya dan menanyakan: “Apa betul Anda mengajak anak saya pergi ke air port haji untuk berdakwah?”
Saya katakan, “Betul, kalau dia berminat.”
Orang tuanya mengatakan: “Justru kami sangat senang sekali, jika Anda bisa membawa anak saya ke air port haji untuk ikut membantu dakwah Islam. Saya ingin anak saya ini besarnya kelak bermafaat bagi umat Islam, supaya dia ikut bergembira jika umat Islam bergembira, ikut sedih jika umat Islam sedang mendapatkan bencana dan musibah, serta supaya anak saya tidak membedakan orang menurut suku dan kebangsaannya, karena sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah diantara manusia adalah yang paling bertakwa. Hanya saja, karena anak ini masih kecil, kami tidak pernah membiarkan ia pergi sendiri. Meskipun ke sekolah, selalu kami antar dan kami jemput. Jadi bagaimana sekiranya dari pihak keluarga ikut juga ke air port bersama Anda?”
Saya katakan, “Itu lebih baik.”
Akhirnya, kami pun berangkat ke air port haji bersama Ahmad dan keluarganya. Dalam perjalanan ke air port, saya tanya kepada anak ini: “Apa yang memotivasi Anda beramal untuk kepentingan Islam?” Dia menjawab, “Ajrun ‘Indallaah” Artinya, aku mengharap ganjaran pahala dari sisi Allah.
Kemudian saya tanya lagi : “Apakah Anda hafal dzikir pagi dan sore hari?”
Dia menjawab, “Saya hafal.”
“Coba saya mau mendengar,” tanya saya lagi.
Lalu dia membaca dzikir pagi dan sore. Banyak sekali yang dia hafal. Sampai kami pulang dari air port.
Pihak kantor pun, setelah diberitahu ada anak kecil yang mendaftar menjadi relawan, menerima dengan senang hati. Dia datang ke kantor tiap hari Jum’at saat sekolah libur.
Mudah Menerima Nasihat
Yang namanya anak-anak, tentu tidak lepas dari kekeliruan dalam bersikap, dan kita harus memakluminya. Janganlah kita mudah marah kepada anak, karena kita sebagai orang dewasa juga tidak lepas dari kekeliruan. Tinggal bagaimana kita harus memperbaiki kesalahannya dengan cara yang bijaksana.
Suatu hari, pada hari Jum’at, saat kami dan Ahmad berada di kantor, datanglah tamu menemui Ustadz Hamadi al Ashlani, salah seorang pengurus kantor JDC. Tampak perbincangan yang serius di antara mereka berdua. Ahmad yang duduk dekat mereka berdua mendengar mereka berbicara, kemudian ia langsung menyambung dan memotong ucapan mereka. Mungkin dia ingin membuktikan kepada mereka berdua, bahwa ia mengerti topik yang sedang dibicarakan.
Ustadz Hamadi tidak menggubris Ahmad dan tetap berbicara dengan tamunya. Ia tidak marah dan memaklumi, bahwa yang mengganggunya adalah anak-anak. Saya yang berada dekat mereka segera memanggil Ahmad dan mengalihkannya kepada kegiatan lain. Saya minta Ahmad menemani saya ke sebuah toko yang jaraknya kurang lebih 1 kilometer, untuk memberikan buku kepada orang Indonesia yang bekerja di sana. Sebelumnya dia menawarkan agar saya naik mobilnya dan ia pun segera mencari sopir. Saya berkeberatan karena belum izin orang tuanya. Dia berpendapat tidak apa-apa. Alhamdulillah, ternyata sopir Ahmad sedang mengikuti pengajian yang dibimbing Ustadz Farid bin Muhammad al Bathathi. Akhirnya kami berdua berjalan kaki di bawah terik matahari, pulang pergi menempuh jarak sekitar 2 kilometer. Dalam perjalanan, saya sempat bertanya kepadanya: “Pada masa yang akan datang, Anda ingin menjadi apa?” Ahmad menjawab dengan mantap, tanpa ragu-ragu: “Ingin menjadi pedagang”.
Saya sempat menyesal membawa Ahmad berjalan kaki cukup jauh untuk anak seusia dia di bawah terik matahari. Dalam perjalanan pulang ke kantor, ibunya telepon ke hp Ahmad, yang hanya dipegang jika Ahmad ke luar rumah saja. Setelah selesai, saya katakan akan bicara ke ibunya, lalu saya mohon maaf karena membawa Ahmad jalan kaki. Ibunya mengatakan tidak apa-apa. Ahmad adalah seorang olahragawan dan fisiknya kuat, insya Allah.
Pada hari yang lain, saya sedang dalam perjalanan dengan rekan sekantor. Diantara pembicaraan teman saya ini, bahwa pada hari Jum’at yang lalu -saat itu saya tidak berada di kantor- datanglah tamu dari perusahaan komputer menemui pengurus kantor. Saat pengurus kantor dan tamu sedang berbincang-bincang, Ahmad pun memotong dan ikut melibatkan diri dalam pembicaraan mereka. Ada diantara rekan yang masih muda merasa jengkel kepada Ahmad.
Malamnya, segera saya telepon orang tua Ahmad, dan saya beritahu dua kejadian. Yang satu saya saksikan sendiri, dan yang kedua saya dengar dari teman sekantor, bahwa Ahmad suka memotong dan turut campur dalam pembicaraan orang dewasa. Orang tuanya senang dengan laporan ini, dan berjanji akan menasihati Ahmad. Saya juga mengatakan kepadanya akan menasihati Ahmad, tetapi belum bisa secara langsung.
Sayapun menulis surat kepada Ahmad tentang pentingnya saling memberi nasihat sesama muslim. Diantaranya, saya sebutkan temanmu itu adalah yang bersikap jujur dan tulus kepadamu, bukan yang selalu membenarkanmu. Disamping surat tersebut, saya sertakan pula sebuah hadits dalam Shohih Bukhari yang menunjukkan, bahwa memotong pembicaraan orang lain adalah tidak sesuai dengan adab Islam. Orang tuanya juga menasihati Ahmad. Alhamdulillah, setelah itu, terjadi perubahan yang positif. Ahmad tidak suka memotong pembicaraan orang dewasa. Dia tahu kapan ia harus bicara, dan kapan ia harus diam mendengarkan. Saya sendiri perlu mencontohnya, karena terkadang tanpa terasa suka memotong pembicaraan orang lain.
Berdakwah Dengan Cara Menginfakkan Hartanya
Pada Jum’at yang lain, pengurus kantor menugaskan Ahmad untuk duduk di ruang istiqbal (resepsion) menerima tamu atau pembeli yang datang. Kantor JDC menjual buku-buku dan kaset-kaset dalam berbagai bahasa, seperti: bahasa Indonesia, bahasa Tagalog (Philipina), bahasa Urdu (Pakistan), bahasa Tamil dan Sinhali (Srilangka), bahasa Inggris dan lain-lain. Sebelum mulai melaksanakan tugasnya, ia mengeluarkan dari sakunya uang sebesar 5 real Saudi (sekitar dua belas ribu lima ratus rupiah), lalu ia mengatakan kepada kami: “Ini uang milik saya, saya bawa dari rumah.”
Saya menjawab, “Kami percaya, bahwa Anda adalah orang yang jujur.”
Setelah itu, saya lihat ia mulai menerima uang dari pembeli sebesar 10 real Saudi, dimasukannya ke dalam sakunya dan dicatatnya uang yang masuk tadi. Sampai datanglah seorang pengunjung asal Pakistan. Ia membeli 2 set buku yang berbahasa Inggris seharga 10 real, dan 3 kaset berbahasa Urdu seharga 9 real. Total semuanya 19 real. Sang pengunjung menyodorkan uang 50 real kepada Ahmad. Karena tidak ada kembalian, Ahmad pun membawa uang tersebut kepada sekretaris kantor di ruang lain untuk menukar uang.
Saya lihat buku berbahasa Inggris yang dibeli tertulis “Untuk Non Muslim”, maka saya tanya kepada pengunjung tersebut: “Anda membeli buku berbahasa Inggris ini untuk siapa? Untuk dibaca sendiri atau untuk orang lain?” Saya khawatir ia salah beli.
Dia menjawab, “Saya akan berikan sebagai hadiah untuk teman saya sekantor, ia kafir bukan muslim. Semoga ia mendapatkan hidayah dan masuk Islam!”
Mendengar jawaban tersebut, segera saya bergegas menuju sekretaris kantor. Saya katakan, “Bagaimana pendapatmu, kalau buku yang dibeli oleh tamu kita ini, kita hadiahkan saja, karena buku tersebut akan dihadiahkan kepada teman sekerjanya yang kafir?”
Sekretaris kantor setuju. Ahmad mendengar pembicaraan kami berdua, karena ia sedang menunggu kembalian uang untuk tamunya. Sekretaris kantor mengatakan, jadi total yang ia beli hanya 9 real dan kembalinya 41 real. Tiba-tiba, secara spontan, Ahmad mengeluarkan uang 5 real miliknya dan ia berikan kepada sekretaris sambil berkata: “Saya ikut menyumbang 5 real untuk beli kaset dakwah yang dibeli orang itu. Jadi biar ia membayar cukup 4 real saja”.
Mendengar itu, saya menjadi terharu dan saya katakan, biar saya yang membayar 5 real, Ahmad cukup 4 real saja. Dia bilang,”Ustadz saja yang 4 real, saya yang 5 real,” kemudian saya paksakan ia menerima kembali 1 real. Akhirnya, pengunjung tadi mendapatkan buku-buku dan kaset secara gratis, dikembalikanlah uang 50 real. Dia pulang dengan girang.
Memberikan Ceramah di Depan Jamaah Haji Indonesia
Suatu hari, saya pernah menawarkan kepada Ahmad untuk memberikan ceramah di hadapan jamaah haji Indonesia di madinatul hujjaj di air port lama, Jeddah. Dia pun menyanggupi. Lalu saya beritahukan materinya tentang ukhuwah Istamiyah, dan saya berikan point-pointnya, yaitu tentang pentingnya ukhuwah, sarana-sarana untuk memperkokoh ukhuwah serta perusak-perusak ukhuwah.
Kira-kira dua pekan kemudian ia bertanya: “Bagaimana Ustadz, kalau saya sampaikan materi ini dengan membaca teks. Saya belum pernah berceramah sebelum ini.”
Saya katakan, “Tidak apa-apa, tapi kalau bisa tanpa teks itu lebih bagus.”
Akhirnya, pada hari yang sudah dijadwalkan, ia dengan diantar kakek dan ibunya berangkat ke madinatul hujjaj untuk berceramah di hadapan jamaah haji Indonesia. Mereka sampai disana sebelum Maghrib. Saya sempat bertanya kepada Ahmad, berapa juz ia hafal al Qur`an. Ia menjawab, 10 juz. Ketika saya sampaikan ke Ahmad, bahwa setelah ia berpidato ada acara tanya jawab. Semula Ahmad berkeberatan dengan mengatakan: “Saya tidak mempunyai wewenang untuk berfatwa”. Saya tersenyum dan menjelaskan, bahwa pertanyaannya bukan tentang masalah hukum, tetapi yang sifatnya ta’aruf untuk mengenal tebih dekat lagi.
Saya sampaikan pada pembukaan kepada jamaah haji, bahwa hari ini kita kedatangan tamu; seorang anak kecil. Saya ceritakan, bahwa perkenalan saya dengannya baru satu bulan ketika dia datang ke kantor Jeddah Da’wah Center mendaftarkan diri untuk menjadi relawan di sana. Saya ceritakan tentang perhatiannya terhadap hafalan al Qur`an, doa-doa dan dzikir, kepandaiannya dalam bidang komputer dan bahasa Inggris, serta aktifitasnya yang padat dengan kegiatan olah raga, kursus-kursus komputer dan bahasa Inggris. Setelah itu Ahmad berceramah dalam bahasa Arab dengan membaca teks dan saya terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.
Ahmad berpidato dengan suara yang lantang. Ia kemukakan, bahwa ukhuwah Islamiyah (persaudaraan Islam) lebih kuat dari pada ikatan nasab (keturunan). Kemudian ia pun menceritakan sarana-sarana yang dapat memperkuat ukhuwah Islamiyah, seperti: menyebarkan salam, saling mengunjungi, saling memberi hadiah, bertutur kata dengan baik dan santun. Kemudian, ia juga menjelaskan hal-hal yang dapat merusak ukhuwah, seperti: ghibah (menggunjing), namimah (adu domba), dan menyebarluaskan rahasia.
Diantara jamaah haji ada yang bertanya dengan bahasa Inggris. Ahmad menjawab pertanyaan dengan lancar. Jamaah haji itu bertanya, “Mungkin Anda pernah tinggal di Eropa atau Amerika, atau lahir di sana barangkali?” Ahmad menjawab, “Tidak! Saya lahir di Saudi Arabia, dan tidak pernah pergi ke luar negeri.” Jamaah haji bertanya, “Sejak kapan Anda belajar bahasa Inggris?” Ahmad menjawab, “Saya belajar bahasa Inggris sejak umur 5 tahun.” Ahmad juga sempat ditanya jumlah saudaranya. Dia menyebutkan dua bersaudara, ia dan adiknya, Laila yang masih duduk di kelas 4 SD. Setelah selesai, maka para jamaah haji laki-taki menghampiri Ahmad dan kakeknya dan menyalaminya. Saya lihat ada di antara mereka yang menangis terharu.
Ahmad dan Bencana Tsunami
Ahmad memiliki hati yang lembut dan perhatian untuk mengetahui keadaan kaum Muslimin di belahan dunia. Ketika terjadi bencana Tsunami pada tanggal 26 Desember 2004 M, ia pun membaca berita-berita tentang para korban dari koran, karena di rumahnya tidak ada televisi. Ia tidak menghabiskan waktunya untuk membaca berita dan informasi, tapi sekedar tahu secara global. Diantara perbincangan saya dengan Ahmad pada hari Jum’at adalah tentang bencana Tsunami. Dia sangat interest untuk mendengar berita dari saya, dan juga bersemangat menceritakan informasi yang dia dapat.
Tidak lama sesudah bencana Tsunami, seorang ibu yang tidak kami kenal menelpon ke kantor Islamic Center di Jeddah, meminta agar dai yang berasal dari Indonesia memberikan nasihat dalam bentuk kaset untuk kaum Muslimin di Aceh dan Sumatera Utara, agar mereka bersabar, ridha dengan ketentuan Allah, selalu bersangka baik kepada Allah, dan mengambil hikmah dari segala ujian serta cobaan yang berat ini. Alhamdulillah, akhirnya usulan ibu tersebut tertaksana, dan setelah itu, timbul ide baru agar isi nasihat itu dibukukan.
Saat penyusunan buku tersebut yang diberi judul Hikmah Di Balik Musibah, saya mendapat sedikit kesulitan dalam penulisan hadits-hadits Nabi. Saat itu kantor belum punya CD hadits, sedangkan untuk mengetik satu per satu teks hadits bisa membutuhkan waktu yang agak panjang, karena saya belum lancar menulis dengan huruf Arab di komputer. Akhirnya saya ingat Ahmad, dan segera menelepon keluarganya untuk minta izin agar Ahmad menyempatkan waktunya untuk membantu saya mengetik hadits-hadits Nabi berkenaan dengan musibah. Saya pun memberitahu hadits-hadits yang perlu diketik. Ahmad mengetik hadits-hadits permintaan saya itu di rumahnya, sebab di kantor sendiri pekerjaan yang ia tangani cukup banyak. Dia diberi tugas oleh pengurus kantor untuk mengetik urusan administrasi, sehingga praktis di kantor ia tidak punya waktu untuk mengetik hadits-hadits yang saya minta itu. Karena di rumahnya juga banyak kegiatan seperti belajar, ia juga aktif berolah raga seperti berenang, menunggang kuda dan bela diri, maka Ahmad akhirnya minta bantuan adiknya, Laila, yang masih duduk di kelas 4 SD untuk membantunya. Sang ibu mengawasinya dalam mengerjakan tugas-tugas tersebut. Jika ada hal yang keliru atau salah, baru dibenarkan. Sepekan kemudian, ketika ke kantor, ia menyerahkan hasil pekerjaannya dan mengatakan : “Ustadz, saya mengetiknya sekian halaman, dan adik saya sekian halaman.”
Ahmad juga ikut menyumbang 100 real (sekitar dua ratus lima puluh ribu rupiah) dari uang tabungannya untuk korban bencana Tsunami yang akan saya sebutkan saat perpisahan.
Bergaul Dengan Orang-orang Yang Baik
Orang tua Ahmad mengarahkan dan memotivasi anaknya agar menjadi relawan di kantor Islamic Center, di antara tujuannya agar anaknya bergaul dengan orang-orang yang baik dan bisa mencontoh mereka dan terhindar dari pergaulan yang tidak baik.
Suatu hari saya telepon orang tuanya. Saya beritahukan ada seorang dai yang usianya 70 tahun dari Jenewa, Swiss datang ke Mekkah untuk umroh dan silaturahmi mengunjungi adik-adiknya di Mekkah dan Jeddah. Saya katakan, sekarang masih berada di Mekkah dan saya ada janji untuk bertemu dengannya. Saya tawarkan, jika ayah Ahmad ada waktu, kita bisa bertemu di Mekkah. Orang tuanya senang dengan rencana ini, tetapi belum bisa memastikan apakah dapat berangkat atau tidak.
Kemudian, saya juga teringat Ahmad, mungkin ia tidak berminat pergi ke Mekkah untuk menemui orang tua dan mendengarkan nasihatnya. Saya katakan kepada orangtuanya, tolong tanyakan dulu kepada Ahmad, apakah ia minat atau tidak pergi ke Mekkah bersama kami. Orang tuanya mengatakan : “Saya rasa kita tidak perlu menanyakan kepada Ahmad, apakah ia minat atau tidak, karena mengunjungi orang yang shalih adalah suatu kebaikan, dan tugas kami sebagai orang tua adalah menumbuhkan minat anak”.
Perpisahan
Tibalah saat saya pulang ke Indonesia pada pertengahan bulan Safar 1426H, atau akhir Maret 2005 M. Saya izin kepada Ummu Ahmad untuk mengajak Ahmad dan sopirnya al akh Musthafa makan siang di rumah makan.
Mendengar permintaan saya, Ummu Ahmad mengatakan: “Seharusnya kami yang mengundang Anda makan di rumah, karena anda adalah tamu. Tetapi karena suami saya sedang keluar kota, maka Ahmad lah yang akan mentraktir Anda makan di rumah makan.” Mulanya saya menolak, karena yang punya ide adalah saya, maka saya yang berhak untuk membayar. Beliau tetap memaksa, maka akhirnya saya mengalah. Sekitar jam empat sore sepulang saya dari masjid, saya dapatkan Ahmad dan Musthafa sudah menunggu di depan kantor tempat saya tinggal di sana selama dua bulan di Jeddah.
Sebelum berangkat ke rumah makan, Ahmad menyerahkan surat dari orang tuanya untuk saya baca, dan saya diminta untuk memberi masukan dan komentar. Surat itu dari orang tua Ahmad untuk pihak sekolah tempat Ahmad belajar.
Sebelumnya, pihak sekolah telah melontarkan surat kepada orang tua Ahmad, meminta izin bahwa dalam liburan musim panas, pihak sekolah akan merencanakan study tour ke Malaysia membawa 20 siswa yang berbakat, salah satu di antaranya adalah Ahmad. Ada dua tujuan pokok, yaitu untuk mengunjungi Universitas-universitas di Malaysia guna mengetahui sistem pendidikannya, dan yang kedua untuk melihat kemegahan bangunan dan arsitektur di Malaysia.
Orang tua Ahmad tidak setuju dan menulis surat balasan kepada sekolah. Saya baca surat tersebut. Orang tuanya menyebutkan alasan tidak mengizinkan Ahmad, bahwa tujuan tersebut tidak begitu penting, karena anaknya masih duduk di bangku SD, sehingga kurang bermanfaat bagi anak SD untuk mengetahui sistem pendidikan di universitas. Kalaupun dianggap penting, bisa dengan mendatangi pameran-pameran yang diadakan di Jeddah, misalnya. Begitu pula melihat kemegahan arsitektur dan bangunan tidak begitu penting, malah bisa berdampak negatif, yaitu anak-anak dapat tertipu dengan penampilan lahiriah, bangga dengan bangunan yang megah dan lupa dengan yang lebih pokok, yaitu masalah pentingnya membenahi hati, aqidah, ibadah dan akhlak.
Dalam surat itu disebutkan pula, jika pihak sekolah mempunyai program membawa siswa ke negeri-negeri Islam yang sedang tertimpa bencana, seperti ke Aceh, misalnya, untuk membantu para korban bencana, kami dengan senang hati akan mengizinkan anak kami untuk ikut berangkat. Lebih-lebih lagi kita tahu bersama, bahwa para missionaris Kristen banyak mengirim relawannya pergi ke negeri-negeri Islam yang sedang tertimpa bencana. Mereka melancarkan misinya dengan payung memberikan bantuan kemanusiaan.
Selesai membaca surat tersebut, saya beranggapan bahwa Ahmad tentu kecewa dengan keputusan orang tuanya ini. Segera saya ingin menghiburnya. Saya pancing Ahmad dengan pertanyaan: “Apakah Anda kecewa tidak berangkat ke Malaysia?” Ahmad menjawab dengan mantap: “Saya tidak kecewa”. Saya tanya, “Mengapa tidak kecewa? Padahal teman-teman Anda berangkat ke sana.” Kemudian Ahmad menjelaskan kepada saya, persis seperti isi surat orang tuanya untuk pihak sekolah.
Tidak terasa hari semakin sore, sedangkan kami belum makan siang. Ahmad mengatakan kepada saya: “Ustadz bisa pilih, ingin makan di rumah makan mana? Tidak mesti yang dekat, yang jauh juga boleh”. Saya katakan kepadanya, yang dekat saja di rumah makan at Tazaj. Berangkatlah kami bertiga ke rumah makan yang jaraknya dari kantor kurang lebih 1 kilometer. Setelah kami pesan makanan, saya tanya kepada Ahmad, pilih minum Pepsi Cola, Seven Up atau apa? Dia menjawab, “Saya pilih air putih saja.” Musthafa mengatakan, bahwa Ahmad memang sejak kecil tidak minum minuman seperti itu.
Selama kami makan, kami berbicara. Saya lupa apa saja yang kami bicarakan saat itu. Yang saya ingat, saya sempat bertanya kepadanya: “Apakah Anda sudah membaca surat yang saya tulis di Masjidil Haram di Mekkah untuk Anda?” Ahmad menjawab, “Belum, karena semalam saya kecapaian sehingga langsung tidur.”
Setetah kami selesai makan, ada diantara pelayan restoran yang berasal dari Philipina memberikan hadiah berupa selebaran berwarna-warni untuk anak-anak, dan diberikannya kepada Ahmad. Semula Ahmad tidak ingin mengambilnya, bisa jadi karena ia merasa bukan anak-anak lagi. Saya segera minta kepada Ahmad untuk menerimanya. Setelah kami sampai di mobil, saya katakan, kita berusaha untuk menjaga perasaan orang lain, jika Anda terima, berarti Anda menggembirakan dia. Dan jika Anda tolak, bisa membuat dia sedih atau kecewa.
Dalam perjalanan ke kantor, Ahmad mengeluarkan dompetnya dan mengambil uang sebesar 100 real, lalu dia berikan kepada saya seraya berkata: “Ustadz akan pulang ke Indonesia, ini saya titip uang 100 real dari tabungan saya untuk korban bencana alam Tsunami di Aceh.” Terharu saya mendengar ucapannya yang tulus keluar dari lubuk hati yang paling dalam. Sebenarnya saya tidak ingin menerima amanat ini. Tetapi karena saya juga tidak ingin mengecewakan Ahmad yang ingin berpartisipasi ikut andil menyumbang, akhirnya amanat tersebut saya terima, dan saya katakan: “Insya Allah saya akan sampaikan amanat ini kepada orang yang berhak menerimanya.”
Dia juga menawarkan diri untuk mengantar saya sampai air port. Saya katakan, bahwa saya sudah janji dengan Ustadz Farid al Bathathi, beliau yang akan mengantarkan saya ke air port. “Yang kedua, saya tahu bahwa jadwal Anda sangat padat. Saya tidak mau mengganggu kegiatan Anda”.
Tibalah saat perpisahan. Saya tidak tahu, apakah dapat berjumpa kembali dengannya atau tidak. Yang jelas banyak sekali pelajaran yang saya dapatkan dari Ahmad dan keluarganya.
Semoga Allah memberikan taufik kepada Ahmad dan anak-anak kaum Muslimin untuk tetap istiqomah dalam ketaatan, dan memberikan taufik kepada kedua orang tua Ahmad dan semua orang tua Muslimin untuk dapat mendidik anak-anak mereka menjadi anak-anak yang shalih.
Rabbanaa laa tuzigh quluubanaa ba’da idz hadaitanaa wahablanaa min ladunka rahmah innaka anta al wahhab.
Banyak sekali pelajaran yang bisa kita dapatkan dari kisah Ahmad. Insya Allah penulis akan membahasnya dalam sebuah buku tersendiri.
[Disalin dari Majalah As-Sunnah Edisi 12/Tahun IX/1427H/2006M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Almat Jl. Solo – Purwodadi Km. 8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183. telp. 0271-5891016]
TEMAN DAN PENGARUHNYA DALAM MEMBENTUK KEPRIBADIAN ( KISAH ANAK MENDAMAIKAN DUA ORANG BERSELISIH LEWAT SMS )
Termasuk hal yang penting dalam pembinaan anak muslim adalah dengan menghindari bersahabat dengan teman-teman yang buruk dan jahat, hendaklah ia tumbuh dewasa dengan sahabat-sahabat yang baik, bermajelis dengan orang-orang dewasa sehingga mereka mendapatkan tambahan ilmu dan pengalaman, belajar adab dan akhlak. Bahkan bisa jadi anak kecil yang mendapatkan karunia Allah berupa kecerdasan dan kepandaian dapat memberikan manfaat yang banyak kepada manusia dan orang-orang yang bergaul dengannya maka kedua orang tuanya dan orang-orang yang mendidiknya ikut bergembira.
Teman mempunyai pengaruh yang sangat kuat dalam membentuk kepribadian anak. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ”Seseorang menurut agama sahabatnya, maka hendaklah setiap orang memperhatikan dengan siapa dia bersahabat”. (H.R. Abu Daud, Tirmidzi dan Ahmad dengan sanad hasan)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,
“Sesungguhnya perumpamaan teman majelis yang shalih dan teman majelis yang buruk seperti orang yang membawa minyak misk (kasturi) dan pandai besi. Orang yang membawa minyak misk bisa jadi ia memberimu hadiah, atau engkau membeli darinya atau engkau mencium bau harum darinya. Sedangkan pandai besi bisa jadi ia membakar bajumu atau engkau mendapatkan darinya bau yang tidak sedap.” (Muttafaq Alaih)
Syaikh Bakr Abu Zaid dalam bukunya “Hilyatu Thalibil Ilmi” memperingatkan penuntut ilmu agar hati-hati terhadap teman yang buruk karena adab yang buruk dan karakter seseorang mudah berpindah dan manusia diberi naluri untuk saling menyerupai dan meniru temannya. Hati-hati dari bergaul dengan mereka karena pencegahan lebih mudah dari pengobatan. Pilihlah teman yang dapat membantu mencapai tujuanmu yang mulia dan cocok dengan tujuan tersebut, pilihlah teman yang mendekatkan dirimu kepada Allah. Kemudian beliau membagi teman itu menjadi tiga macam:
1. Teman berasaskan manfaat
2. Teman kenikmatan
3. Teman keutamaan
Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah dalam “Syarah Hilyah Thalibil Ilmi” menjelaskan tentang tiga macam teman dengan mengatakan,
“Pertama, teman manfaat yaitu orang yang berteman denganmu untuk mendapatkan manfaat darimu berupa harta, kedudukan atau lainnya. Jika tidak ada manfaat yang didapatkan darimu jadilah ia musuhmu, dia tidak mengenalmu dan kamu tidak mengenalnya. Betapa banyaknya mereka ini, jika mereka diberi shadaqah mereka senang tapi jika tidak diberi mereka marah. Ada seorang temanmu yang sangat akrab, kamu sangat menghormatinya dan dia pun sangat menghormatimu, suatu hari ia berkata kepadamu, “Bawa sini bukumu untuk saya baca!”. Kamu menjawab, “Demi Allah saya perlu buku itu besok”. Maka ia cemberut dan memusuhimu, apakah ini dikatakan teman? Ini teman manfaat.
Kedua, teman kenikmatan, Ia berteman denganmu hanya untuk bersenang-senang denganmu dalam bermajelis dan begadang, tetapi dia tidak memberimu manfaat dan kamu tidak memberi manfaat kepadanya, yang ada hanya buang waktu. Tipe ini juga kamu harus hati-hati darinya karena dia akan menyia-nyiakan waktumu.
Ketiga, teman keutamaan, yang membawamu kepada kebaikan dan melarangmu kepada keburukan, membuka pintu-pintu kebaikan untukmu dan menuntunmu kepadanya.. Jika kamu tergelincir dia akan melarangmu dengan cara tidak mempermalukanmu, ini baru teman keutamaan.”
Adapun syarat-syarat untuk memilih teman dan adab berteman telah dijelaskan dalam buku “Adab Bergaul” sehingga tidak perlu ditulis lagi.
Seorang penyair berkata:
“Jauhilah teman yang buruk dan putuskanlah perangkapnya,
berbasa basilah apabila engkau tidak mendapatkan jalan untuk menghindarinya,
Berpegangteguhlah dengan sahabat yang jujur hindarilah berdebat dengannya,
Engkau akan dapatkan kasih sayang yang murni selama engkau tidak mendebatnya,
Barangsiapa yang menanam kebaikan kepada orang yang tidak pantas diberi kebaikan,
Dia akan mendapatkannya dibalik lautan atau di dasarnya,
Allah memiliki surga yang luasnya seluas langit,
Tetapi surga itu dikelilingi dengan hal-hal yang tidak disukai”
Hendaknya kita menanam kebaikan kepada orang lain janganlah kita maksudkan untuk mendapatkan balasan kebaikan dari orang tersebut tapi hendaklah dengan niat mendapat ridha Allah semata niscaya Allah akan membalas kebaikan kita di dunia dan di akhirat. Jadi kalau kita tidak mendapatkan balasan apa-apa dari orang yang kita bantu, sama sekali kita tidak marah ataupun jengkel kepada orang tersebut karena yang kita harapkan hanyalah ridha Allah. Dalam prakteknya ternyata tidak mudah, terkadang ada tindakan dari murid kita yang kurang mengenakkan kita lalu segera kita jengkel dan menceritakan kepada orang lain (berghibah) bahwa dia adalah sebenarnya adalah pernah menjadi murid saya tetapi sekarang melakukan tindakan yang tidak pantas kepada saya dan lain sebagainya. Padahal kalau memang murid kita berakhlak tidak baik kepada kita hendaklah kita doakan dia dan kita nasehati secara langsung. Kalau belum berubah kita serahkan kepada Allah tanpa mengungkit-ngungkit kebaikan kita. Semoga Allah selalu membimbing kita semua untuk dapat mencontoh para Rasul Alihimus Shalatu Wassalam yang telah mendakwahkan tauhid dengan ikhlas karena Allah. Allah berfirman mengisahkan tentang ucapan Nabi Nuh ‘alaihis salam kepada kaumnya,
“Dan (dia berkata): “Hai kaumku, aku tidak meminta harta benda kepada kalian (sebagai upah) bagi seruanku. Upahku hanyalah dari Allah…” (Surat Huud 29)
Allah berfirman mengisahkan tentang ucapan Nabi Hud ‘alaihis salam kepada kaumnya,
“Hai kaumku, aku tidak meminta upah kepadamu bagi seruanku ini, upahku tidak lain hanyalah dari Allah yang telah menciptakanku. Maka tidakkah kamu memikirkan(nya)” (Surat Huud 51).
Bahkan terkadang kebaikan yang kita berikan kepada orang lain dibalasnya dengan keburukan. Hendaklah kita balas dengan kebaikan lagi sebagaimana Allah firmankan,
“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri?” Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar” (Surat Fushshilat 33-36)
Saya memiliki sahabat yang bernama Abdullah yang masih berumur 13 tahun, saya belum pernah berjumpa dengannya, ia mengirim sms kepada ustadz Agus Hasan Bashori yang dikenalnya di masjidil haram saat Abdullah menunaikan ibadah umroh bersama paman dan anak pamannya di bulan Ramadhan 1425H. Ketika ustadz Agus berkunjung ke Jeddah, beliau teringat dengan cerita saya tentang Ahmad dan menceritakan tentang perkenalannya dengan Abdullah ini yang tinggal di kota Buraidah Al Qassem Saudi Arabia, isi sms nya:
“Betapa bahagianya dia… Yaitu orang yang mengingat kuburnya kemudian ingat kepada Rabbnya, orang yang selalu mengoreksi diri, mensucikan hatinya, berbakti kepada keduaorangtuanya, orang yang suka menangis meneteskan airmatanya (karena takut kepada Allah) dan dilanjutkan dengan sujud (Orang yang memelihara shalatnya), ia bersegera menuju masjid, rajin shalat malam, selalu memaafkan saudara-saudaranya dan mendoakan untuk mereka kebaikan serta menyalahkan dirinya, ia tidak lupa dengan wiridnya (sesuai dengan tuntunan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam), betapa bahagianya dia…Hendaklah kita semua menjadi orang itu”
Saya terharu dan terkesan dengan sms nya yang menyentuh hati, lalu saya meminta kepada ustadz Agus no hp Abdullah dan segera mengirim sms kepadanya: “Teman itu tiga macam, pertama seperti makanan, sesuatu yang selalu dibutuhkan tidak boleh tidak, kedua seperti obat, dibutuhkan saat sakit saja, ketiga seperti penyakit, sama sekali tidak dibutuhkan”.
Tidak lama Abdullah menelpon saya dengan suara yang bersahabat dan mengucapkan terimakasih atas sms yang telah saya kirim. Kami pun berkenalan dan saya katakan bahwa no hpnya saya dapatkan dari ust adz Agus. Kemudian saya berikan telepon genggam saya kepada ustadz Agus agar beliau mengucapkan salam kepadanya memperkenalkan saya. Diantara yang membuat saya kagum kepadanya adalah semangatnya dalam berdakwah dan memberikan pintu kebaikan kepada orang lain.
Pernah dalam telpon, tanpa saya minta ia menawarkan diri dan mengatakan, “Maukah saya kirim nomor-nomor telpon masyayikh (ulama-ulama) melalui sms, mungkin kamu memerlukannya?” Saya katakan, “Baik, saya tunggu smsnya”. Kemudian tidak lama beliau kirim sms memberikan nomor-nomor telpon Dr.Syaikh Khalid Al Musyaiqih, Syaikh Abdul Aziz As Sadhan, juga beliau berikan no telpon rumah Syaikh Abdurrahman As Sudais, Syaikh Shalih bin Abdullah bin Humaid, Syaikh Abdullah bin Jibrin dan Syaikh Abdul Aziz Alu Syaikh.
Banyak sekali Abdullah mengirim sms kepada saya yang isinya berupa nasihat dan doa. Subhanallah! Saya sangat senang sekali dan merasa terhibur dengan sms-smsnya. Diantaranya,
“Tidaklah seorang dikatakan sebagai teman yang setia sehingga dia menjaga saudaranya dalam tiga hal, disaat musibah, saat temannya tidak ada di hadapan dia dan setelah wafatnya”
“Persahabatan dan percintaan dengan dasar ikhlas karena Allah bagaikan pohon yang menjulang tinggi ke langit dan akarnya menghunjam ke bumi, tumbuh di hati-hati yang suci, disirami (disemai) dengan ilmu, indah dan manis dengan kejujuran dan ketulusan, menjadi besar dengan husnudzan (bersangka baik), buahnya disediakan mimbar-mimbar dari cahaya di hari kiamat untuk mereka, apakah kita siap untuk berteduh di bawah naungan pohon tersebut dan melaksanakan hak-hak persahabatan?”
“Sorga dunia adalah persahabatan dan percintaan dengan dasar ikhlas karena Allah, Al Firdaus adalah sorga Akhirat, semoga Allah mengumpulkanku dan kamu di kedua sorga tersebut”
“Anak laki-laki merupakan nikmat dan anak perempuan merupakan kebaikan, Allah akan meminta pertanggungjawaban atas nikmat dan memberi ganjaran dengan kebaikan, hendaklah kita takut kepada Allah (terhadap anak-anak kita)”
Abdullah juga sempat kirim sms lainnya kepada saya:
“Umar radhiallahu anhu mengimami shalat subuh kemudian berpaling kepada manusia dan berkata: dimana Muadz? Muadz berkata: Ini saya wahai amirul Mu’minin.Umar berkata: Saya teringat kamu tadi malam lalu saya gelisah di tempat tidurku karena cinta dan rindu kepadamu. Lalu keduanya saling memeluk dan saling menangis. Betapa indahnya luapan hati yang tulus. Betapa saya merindukan untuk berjumpa denganmu seperi rindunya Umar terhadap Muadz”.
Sms ini saya informasikan kepada teman-teman di kantor Jeddah Dakwah Center dan mereka minta agar sms tersebut saya kirim ulang kepada mereka dan merekapun mengirim ulang kepada teman-teman lainnya. saya kirim juga kepada sejumlah teman, mereka sangat gembira dengan sms tersebut. Ketika saya ceritakan isi sms ini kepada Abu Shalih tetangga saya di Jeddah,, esoknya ia minta agar saya mengirimkan sms tersebut ke no telepon genggamnya. Setelah saya kirim, dua hari kemudian seusai pulang shalat asar berjamaah dari masjid saya berjumpa dengannya , ia bercerita bahwa sms yang kamu dapatkan dari anak kecil itu saya kirimkan ke teman saya yang sedang jengkel dan kesal kepada saya karena suatu hal. Dia memutuskan hubungan dengan saya, saya berusaha untuk meneleponnya berkali-kali tapi tidak diangkat juga, saya telah berulangkali mengirim sms kepadanya untuk berdamai dan minta maaf tapi tidak dijawab juga. Setelah itu saya ingan akan sms yang kamu ceritakan kepadaku dari anak kecil dari Al Qassem, Subhanallah tidak lama setelah saya kirim sms tersebut, dia menelpon saya dan meminta maaf atas hubungan yang renggang selama ini dan mengatakan saya cinta kamu karena Allah, hilanglah ganjalan diantara keduanya dan hubungan menjadi harmonis lagi disebabkan sms dari anak usia 13 tahun!!
Sungguh saya sangat bergembira mendapatkan teman seperti Abdullah –semoga Allah selalu melindunginya dan menjadikannya tetap istiqamah dalam dien Islam sampai akhir hayat- karena dapat menguatkan iman kita dan mengingatkan kepada Allah. Itulah fungsi teman sebagaimana Nabi Musa Alaihis Salam meminta teman yang dapat membantu beliau dalam misi da’wahnya. Allah berfirman menceritakan permohonan Nabi Musa ‘alaihis salam kepada Allah,
“Pergilah kepada Fir’aun, sesungguhnya ia telah melampaui batas” Berkata Musa: “Ya Rabbku, lapangkanlah untukku dadaku, mudahkanlah untukku urusanku, lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku, dan jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku, (yaitu) Harun saudaraku, teguhkanlah dengan dia kekuatanku, dan jadikanlah dia sekutu dalam urusanku, supaya kami banyak bertasbih kepada Engkau, dan banyak mengingat Engkau. Sesungguhnya Engkau adalah Maha Melihat (keadaan) kami”.
Allah berfirman, “Sesungguhnya telah diperkenankan permintaanmu, hai Musa.”
(Surat Thaha 24-36)
KEAJAIBAN DOA IBU
Ketika saya sedang duduk di ruang kerja di kantor Islamic Center di Jeddah, Saudi Arabia di penghujung bulan Dzulhijjah 1429 H atau di akhir bulan Desember 2008 M, masuklah seorang anak remaja dengan mengenakan gamis, kopiah dan sorban merah sambil mengucapkan salam.
Setelah saya berkenalan dengannya ternyata dia adalah keponakan salah seorang pengurus dan relawan di kantor Islamic Center yaitu ustadz Muhammad Ash Shubhi yang datang ke kantor tiap hari Jumat untuk memberikan ceramah kepada para mualaf yang berasal dari Philpina. Nama anak tersebut Muadz Ash Shubhi berumur 17 tahun dan masih duduk di kelas 2 SMA.
Tampak dari anak tersebut wibawa dan penuh kedewasaan, saya tinggalkan pekerjaan saya dan duduk menemani Muadz untuk mengenal dia lebih jauh lagi. Ternyata dia telah selesai menghapal Al Quran 30 Juz, dan sekarang dia rajin mengulang hapalannya agar tidak lupa dan hilang. Ia terkadang mengimami shalat berjamaah di Masjid dekat rumahnya jika imam terlambat atau berhalanagan hadir. Dia juga aktif berperan sebagai muadzin di masjid tersebut sejak umur 14 tahun. Hanya saja terakhir ini pengurus masjid menggantikannya dengan muadzin dari orang dewasa dengan alasan dia masih anak-anak dan menjanjikan kepadanya jika telah selesai sekolah maka dia bisa menjadi muadzin lagi.
Saya memberikan kesempatan kepadanya untuk berbicara lebih banyak, diantara hal yang menarik dari pembicaraan Muadz yaitu ketika dia bercerita tentang masa kecil Syaikh Doktor Abdul Aziz Fauzan Al Fauzan. Ketika itu, orang tuanya memiliki banyak kambing dan anak-anaknya mendapatkan tugas untuk menggembalakan kambing secara bergantian sepulang mereka dari sekolah.
Hari ini bagian Muhammad kakaknya, keesokan harinya giliran Abdul Aziz dan besoknya lagi giliran adiknya. Saat giliran adiknya bertugas untuk menggembalakan kambing maka adiknya datang kepada ibunya sambil menangis dan berkeberatan untuk menggembalakan kambing. Karena merasa kasihan kepada anaknya yang paling kecil maka si ibu menyuruh kakaknya yang paling besar yaitu Muhammad untuk menggembalakan kambing. Kakaknya menolak dengan alasan bahwa dia sudah menjalankan kewajibannya 2 hari yang lalu. Maka si ibu menyuruh Abdul Aziz untuk menggembalakan kambing, Abdul Aziz menuruti permintaan ibunya dan tidak membantahnya. Keesokan harinya giliran kakaknya yang tertua bertugas menggembalakan kambing, maka kakaknya datang kepada ibunya sambil menangis pula berkeberatan untuk mengembalakan kambing. Si ibu menyuruh Abdul Aziz lagi untuk menggembalakan kambing. Abdul Aziz menjalankan perintah ibunya tanpa membantah sedikitpun. Akhirnya setiap hari Abdul Aziz menggembalakan kambing milik orang tuanya.
Syaikh Abdul Aziz merasakan banyak sekali kemudahan yang Allah berikan kepadanya dan beliau berpendapat diantara sebabnya adalah bakti seorang anak dan doa kedua orang tuanya.
Kisah yang diceritakan Muadz sangat berkesan dihati saya, cerita tersebut mengingatkan saya kepada ucapan Profesor Doktor Abdul Karim Bakkar dan Profesor Doktor Shalih Al Ayid dalam bukunya.
Profesor Doktor Abdul Karim Bakkar berkata,
“Sesungguhnya doa kedua orangtua untuk anak-anaknya ada dua macam, ada yang disebabkan rasa iba dan kasihan, hal ini dilakukan oleh kedua orang tua meskipun anak-anaknya kurang berbakti kepada mereka. Ada lagi doa dari orang tua diucapkan dari lubuk hati yang paling dalam, doa tersebut merupakan ungkapan rasa senang, puas, ridha dan kagum kepada perbuatan dan bakti anak mereka, doa yang seperti inilah yang lebih pantas untuk dikabulkan oleh Allah.” (50 Lilin Untuk Menerangi Jalan Hidup Kalian)
Profesor Doktor Shalih Al Ayid berkata,
“Sesungguhnya doa ibu tidak mungkin meleset, ibuku –semoga Allah merahmatinya- selalu ridha terhadap anak-anaknya dan sangat mencintai mereka, oleh karena itu ia selalu berdoa memohon kebaikan untuk mereka di setiap waktu, berdoa dengan hati yang bersih tanpa ada dendam dan kebencian, oleh karena itu saya melihat dalam segala urusanku adalah hasil dari doa beliau secara nyata dan tidak ada keraguan sedikitpun, berapa banyak pintu kebaikan terbuka untukku dengan tidak disangka-sangka dan berapa banyak tipudaya orang-orang yang hasad dan dengki menjadi runtuh karena karunia Allah disebabkan doa ibuku yang dikabulkanNya.” (Dam’ah ‘ala Qabri Ummi)
ENGKAU DAN HAWA NAFSU
Seorang muslim hendaknya merenungkan mengenai diri dan hawa nafsunya.
Andaikan sampai berita kepada Anda bahwa seseorang telah mencaci maki Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian orang lain mencaci maki Nabi Daus ‘alaihissalam. Sedangkan orang yang ketiga mencaci maki Umar atau Ali radhiyallahu ‘anhuma. Dan yang keempat mencaci maki syaikh Anda. Sementara orang yang kelima, mencaci maki syaikh orang lain.
Apakah amarah dan usaha Anda untuk memberikan hukuman dan pelajaran kepada mereka telah sesuai dengan ketentuan syari’at? Yakni apakah kemarahan Anda kepada orang pertama dan kedua hampir sama kadarnya, namun lebih dahsyat jika dibandingkan kepada yang lainnya? Apakah kemarahan Anda kepada orang yang ketiga lebih ringan kadarnya dibandingkan dua orang yang pertama namun lebih keras dibandingan dua sisanya? Apakah kemarahan Anda kepada orang yang keempat dan kelima hampir sama kadarnya, namun jauh lebih lunak dibandingkan dengan yang sebelumnya?
Misalkan pula Anda membaca sebuah ayat, kemudian nampak bagi Anda bahwa ayat tersebut sesuai dengan pendapat imam anda. Kemudian anda mendapati ayat lain dan nampak oleh anda dari ayat tersebut bahwa ia menyalahi ucapan yang lain dari imam anda tersebut. Apakah penilaian anda mengenai keduanya sama? Yaitu anda tidak akan peduli untuk mencari kejelasan dari dua ayat tersebut dengan mengkajinya secara seksama agar menjadi jelas benar atau tidaknya atas pemahaman anda tadi dengan cara membaca sepintas.
Misalkan pula anda mendapatkan dua hadits yang tidak anda ketahu shahih atau dho’ifnya. Salah satunya sesuai dengan pendapat imam anda sedangkan yang satunya lagi menyalahinya. Apakah pandangan anda terhadap dua hadits tersebut sama tanpa anda peduli (untuk mengetahui secara ilmiyyah) apakah kedua hadits tersebut shahih atau dho’if?
Misalkan pula anda memperhatikan suatu masalah yang imam anda mempunyai suatu pendapat tentangnya, dan (ulama) lain menyalahi pendapat tersebut.
Apakah hawa nafsu anda yang lebih berperana dalam melakukan tarjih salah satu dari dua pendapat tadi? Ataukah anda menelitinya supaya anda dapat mengetahui mana yang rajih dari keduanya dan anda dapat menjelaskan kerajihannya tersebut.
Misalkan pula ada seseorang yang anda cintai dan yang lain anda benci. Keduanya berselisih dalam suatu masalah. Kemudian anda dimintai pendapat tentang perselisihan tersebut. Padahal (anda tidak mengetahui duduk persoalannnya sehingga) anda tidak mungkin dapat menghukuminya. Ketika anda meneliti permasalahan tersebut, apakah hawa nafsu anda yang berperan sehingga lebih memihak orang yang anda cintai?
Misalkan pula ada tiga fatwa dari ulama dalam permasalahan yang berbeda.
Satu dari anda sendiri, yang kedua dari orang yang engkau cintai, dan fatwa ketiga dari orang yang tidak engkau sukai. Dan setelah engkau teliti fatwa kedua teman anda tersebut, maka anda nilai keduanya benar pula. Kemudian sampai berita kepada anda bahwa ada seorang alim yang mengeritik salah satu dari ketiga fatwa tersebut dan mengingkarinya dengan sangat keras. Apakah anda mempunyai sikap yang sama apabila fatwa yang dikritik itu adalah fatwa anda atau fatwa sahabat anda atau fatwa orang yang tidak anda sukai?
Misalkan pula anda mengetahui seseorang berbuat kemunkaran dan anda berhalangan untuk mencegahnya. Kemudian sampai kepada anda bahwa ada seorang ahli ilmu yang mengingkari orang tersebut dengan sangat kerasnya.
Maka apakah anggapan baik anda akan sama apabila yang mengingkari itu teman anda atau musuh anda, begitu pula apabila orang yang diingkarinya itu teman anda atau musuh anda?
Periksalah diri anda! Anda akan dapatkan diri anda sendiri ditimpa musibah dengan perbuatan maksiat atau kekurangan dalam hal Dien. Juga engkau dapati orang yang anda benci ditimpa mushibah dengan melakukan kemaksiatan pula dan kekuranga lainnya dalam syari’at yang tidak lebih berat dari maksiat yang menimpamu. Maka apakah engkau dapati kebenciannmu kepada oarang tersebut (disebabkan maksiat atau kekuarangan dalam syari’at) sama dengan kebencanmu kepada dirimu sendiri? Dan apakah engkau dapati kemarahannmu kepada dirimu sendiri sama dengan kemarahanmu kepadanya?
Pintu-pintu hawa nafsu tidak tehitung banyaknhya. Saya mempunyai pengalaman pribadi ketika saya memperhatikan suatu permasalahan yang saya anggap bahwa hawa nafsu tidak ikut tercampur dalam masalah tersebut. Saya mendapatkan satu pengertian dalam masalah tersebut, maka saya menetapkannya dengan satu ketetapan yang saya anggap baik. Kemudian setelah itu saya melihat sesuatu yang membuat cacat ketepan tadi. Lalu saya gigih mempertahankan kesalahan tadi dan jiwaku menyuruhku untuk memberikan pembelaan dan menutup mata, serta menolak untuk mengadakan penelitian lebih lanjut secara mendalam. Hal ini dikarenakan ketika saya menetapkan pengertian pertama yang saya kagumi itu, hawa nafsu saya condong untuk membenarkannya. Padahal belum ada satu orangpun yang mengetahui hal ini. Maka bagaimana seandainya hal tersebut sudah saya sebar luaskan kepada khalayak ramai, kemudian setelah itu tampak bagiku bahwa pengertian tersebut salah? Maka bagaimana pula apabila kesalahan tersebut bukan saya sendiri yang mengetahuinya melainkan orang lain yang mengkritikku? Maka bagaimana pula jika orang yang mengkritikku adalah orang yang aku benci?
Hal ini bukan berarti bahwa seorang alim dituntut untuk tidak mempunyai hawa nafsu karena hal ini diluar kemampuannya. Tapi kewajiban seorang alim adalah mengoreksi diri dan hawa nafsunya supaya dia mengetahui kemudian mengekangnya dan memperhatikan dengan seksama dalam hal kebanaran sebagai suatu kebenaran. Apabila jelas baginya bahwa kebenaran tersebut menyelisihi hawa nafsunya, maka dia harus mengutamakan kebenaran daripada mengikuti hawa nafsunya.
Seorang alim terkadang lalai dalam mengawasi hawa nafsunya. Ia bersikap toleran sehingga dirinya condong kepada kebatilan dan membela kebatilan tersebut. Dia menyangka bahwa dirinya belum menyimpang dari kebenaran. Dia menyangka pula bahwa dirinya tidak sedang memusuhi kebenaran. Tidak ada orang yang selamat dari perbuatan ini kecuali orang yang ma’shum Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam. Hanya saja para ulama bertingkat-tingkat dalam sikapnya terhadap hawa nafsu. Diantara mereka ada yang sering terbawa arus hawa nafsunya sampai melampaui batas sehingga orang yang tidak mengetahui tabiat manusia dan pengaruh hawa nafsu yang demikian besar menyangka bahwa si alim tadi melakukan kesalahan yang fatal dengan sengaja. Diantara ulama juga ada orang yang dapat mengekang hawa nafsunya sehingga jarang sekali mengikuti hawa nafsunya.
Oleh sebab itu barangsiapa sering membaca buku-buku dari penulis yang sama sekali tidak menyandarkan ijthad mereka kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah, maka dia akan banyak mendapatkan keanehan. Hal ini tidak mudah diketahui kecuali oleh orang-orang yang hawa nafsunya tidak condong kepada buku-buku tersebut, yaitu orang yang condong kepada kebenaran yang bertentangan dengan buku-buku tersebut. Kalau hawa nafsunya cenderung kepada buku-buku tersebut dan sudah dikuasai hawa nafsunya, maka dia menyangka bahwa orang-orang yang sependapat dengannya itu terbebas dari mengikuti hawa nafsu, sedangkan orang-orang yang bertentangan dengannya adalah orang-orang yang mengikuti hawa nafsu.
Orang salaf dahulu ada yang berlebihan dalam mengekang hawa nafsunya sampai ia terjerumus ke dalam kesalahan pada sisi yang lain. Seperti seorang hakim yang mengadili dua orang yang berselisih. Orang pertama adalah saudara kandungnya sedangkan yang kedua adalah musuhnya. Ia berlebihan dalam mengekang hawa nafsunya sampai ia menzholimi saudara kandungnya sendiri. Ia seperti orang yang berjalan di tepi jurang yang curam di kanan kirinya, berusaha menghindari jurang yang disebelah kanan namun berlebihan sehingga ia terjatuh ke dalam jurang yang di sebelah kirinya.
(Diterjemahkan dari buku At-Tankil bi Maa fi Ta’nibil Kautsari minal Abathil, karya Syaikh Abdurrahman Al-Mu’allimi Al-Yamani bagian keempat: Al-Qaid ila Tashih Al-Aqaid hal. 196-198 )
Komentar Terakhir